Monday, June 1, 2015

Memasuki Bulan Juni Kita Disambut dengan Penemuan Kikil Berformalin



Sudah masuk bulan juni sobat tapi, mendengar berita-berita di tv makin serem aja bikin makan pun tak tenang mau makan ikan asin eh ikan asinnya dikasih pemutih, mau makan ayam ayamnya disuntik mau makan ikan kakap ikan kakapnya di warnai, saus juga dipalsukan dan kemaren kabar-kabar beras bukan Cuma di pemutihkan aja tapi, juga di palsukan beras dibuat dari plastik dan telah beredar sekarang masuk bulan juni disambut dengan penemuan kikil berformalin mau makan apa lagi coba ini-itu semua makanan sudah diracuni dikasih inilah itulah bukan gizi lagi yang ada racun sudah semua gimana generasi kita mau maju kalau pedagang meraip untung banyak dengan membuat semua makanan menjadi racun. Mereka tidak sadar bahwa mereka merusak generasi mereka sendiri.

Berdagang itu mesti jujur toh jadi seperti Rasul kita  mendapatkan gelar Al-Amin atau yang terpercaya. Dalam menjalankan bisnisnya, Rasulullah selalu mengutamakan kejujuran. Pada waktu jaman Rasulullah berdagang, Rasul mendapatkan barang dagangan dari konglomerat yang bernama Khadijah, yang kemudian menjadi istri dari Nabi Muhammad terpikat dengan kejujurannya. Nabi Muhammad tidak hanya jujur kepada rekan bisnisnya, tetapi juga kepada para pelanggannya. Rasulullah selalu menjelaskan apa adanya keunggulan dari barangnya dan juga kelemahan dari barangnya tersebut.
Bahkan, kejujuran dari Rasulullah itulah yang menjadi ciri khas atau brand dari bisnisnya tersebut. Banyak orang yang tertarik dengan bisnis Rasulullah karena kejujurannya. Jadi kalau ditanya apa yang menjadi keunggulan dari bisnis Rasulullah, adalah kejujurannya. Sebagai pembeli, kita tentu akan memilih pedagang yang sudah terkenal jujur, karena merasa aman dan tidak akan ditipu.
Pedagang sekarang banyak bohongnya mereka melakukan segala cara agar mendapatkan untung banyak tak memperdulikan itu berbahaya atau tidak, merugikan orang lain atau tidak dibilangnya saya ambil untung sedikitnya Cuma 500 padahal Allahu’alam. jika kita jujur rezeki ngalir terus yang diterima halal dan menjadi berkah.

Saya punya pengalaman sobat tentang pedagang yang curang, jadi ceritanya saya baru pulang dari kampus di tengah jalan ada penjual buah anggur saya kasihan sekali melihat ibu itu karena tidak ada yang membeli jualan nya jadi saya beli dan si ibu tersenyum bahagia saya pun ikut senang, ketika saya pulang dan saya lihat anggur yang saya beli tadi ternyata buah anggurnya busuk semua padahal tadi saya lihat tidak ada yang busuk mungkin saat saya lengah ia menukarnya kali ya astaghfirullah hal azim pikir saya ya sudahlah kita tidak usah melabraknya biar ajalah ALLAH yang membalas kita cukup tidak usah membeli lagi jangan menjadi kompor memberi tahu ke semua orang tenang Allah gak tidur. Ya begitulah sobat ya walau gak semua pedagang melakukan kecurangan kita mesti tetap waspada.
 
Kemaren kabar mengejutkan dari Bogor, Jawa Barat beredarnya kikil yang mengandung bahan kimia berbahaya. Pabrik pembuatan kikil yang mengandung bahan kimia berbahaya digerebek petugas Reserse Kriminal Polsek Sukaraja, Jumat (29/5/2015). Dari hasil penggerebakan, petugas menyita belasan drum cairan pemutih kimia Hyprox H2O2 atau Hidrogen Peroksida serta tawas. Kapolsek Sukaraja Kompol Hida Tjahjono mengatakan kasus tersebut berawal dari informasi warga yang menyebut ada pabrik di Kampung Mandalasari RT 03/03 Desa Cimandala Kecamatan Sukaraja Kabupaten Bogor yang memproduksi kikil menggunakan zat kimia berbahaya.

"Setelah melakukan penyelidikan, kami ke lokasi dan menemukan larutan Hidrogen Peroksida dengan kadar 35 persen serta tawas yang digunakan untuk memutihkan dan membersihkan kikil," kata Hida di Mapolsek Sukaraja, Jumat (29/5/2015). Pembuat dan pemilik pabrik kikil, Gofar dan Wahyono telah diamankan petugas untuk dimintai keterangan. Status mereka baru sebagai saksi. Karena pihaknya harus memastikan kandungan pada kikil melalui uji labolatorium di Pusat Labolatorium dan Forensik (Puslabfor) Polda Jabar. "Kami belum mengumpulkan kikil ini mengandung bahan berbahaya atau tidak, karena harus diuji dulu, apakah ini untuk makanan atau bukan. Kalau dari kemasannya jeriken dipastikan bukan buat makanan," jelas Hida.

Hida membeberkan, cairan hiprox digunakan sebagai campuran pemutih gigi dan kulit. Sementara tawas digunakan menjernihkan air yang tidak direkomendasikan untuk digunakan sebagai bahan pengolahan makanan. Berdasar pemeriksaan sementara, perajin kikil mengaku menggunakan bahan itu lantaran harganya murah dan mudah didapat di pasaran. Namun operasi pabrik ini mendapat rekomendasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan pada 2011."Tapi jika kini terbukti beracun maka sampel yang diujikan dulu berbeda atau tanpa zat berbahaya," ungkap Hida.

Sementara Gofar mengaku telah memproduksi kikil dengan menggunakan zat kimia selama 10 tahun. Tujuannya menggunakan cairan kimia tersebut untuk membersihkan kikil dari bercak-bercak hitam."Kalau kulit kikilnya dapat dari Cianjur dan Sukabumi. Dibersihin dulu terus dipakai pemutih selama 48 jam. Terus dibilas dengan air sebanyak 4 kali. Tujuannya supaya warnanya bagus. Soalnya kalau warnanya jelek dan ada hitamnya pembeli kurang suka," aku Gofar.

Dalam sehari, ia bisa memproduksi hingga 2 kuintal kikil. Kikil buatannya ia jual ke Pasar Cibinong, Pasar Bogor, dan Pasar Anyar. Ia biasa menjual Rp 17 ribu per kilogram. Jika terbukti beracun, Kedua pembuat kikil ini bisa ditetapkan tersangka dan dikenakan Pasal 75 Undang-undang Nomor 18 tahun 2012 tentang Pangan dan Pasal 62 UU Nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen dengan ancaman pidana penjara 5 tahun dan atau Pasal 197 UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan dengan ancaman penjara pidana penjara paling lama 15 tahun. (Ali)

Artikel Terkait