Sunday, May 10, 2015

MAKALAH ISSUE KEBIDANAN KOMUNITAS PADA BAYI DI KOMUNITAS


BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Pelayanan kebidanan merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang bertujuan untuk mewujudkan kesehatan keluarga yang berkualitas. Pelayanan kebidanan adalah pelayanan yang diberikan oleh bidan sesuai dengan kewenangannya untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak di keluarga maupun di masyarakat. Dalam rangka pemberian pelayanan kebidanan pada ibu dan anak di komunitas diperlukan bidan komunitas yaitu bidan yang bekerja melayani ibu dan anak di suatu wilayah tertentu.
Komunitas berasal dari bahasa Latin yaitu “Communitas” yang berarti kesamaan, dan juga “communis” yang berarti sama, publik ataupun banyak. Dapat diterjemahkan sebagai kelompok orang yang berada di suatu lokasi/ daerah/ area tertentu (Meilani, Niken dkk, 2009 : 1). Menurut Saunders (1991) komunitas adalah tempat atau kumpulan orang atau sistem sosial.
Pelaksanaan pelayanan kebidanan komunitas didasarkan pada empat konsep utama dalam pelayanan kebidanan yaitu : manusia, masyarakat/ lingkungan, kesehatan dan pelayanan kebidanan yang mengacu pada konsep paradigma kebidanan dan paradigma sehat sehingga diharapkan tercapainya taraf  kesejahteraan hidup masyarakat (Meilani, Niken dkk, 2009)
Namun dalam kebidanan Komunitas terdapat juga issue kesehatan yang menajdi sebuah masalah kebidanan di Komunitas yang dijumpai dalam kebidan komunitas dan menjadi salah satu peran tugas dan tanggung jawab bidan dalam menangani masalah tersebut, diantaranya adalah Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR), Diare pada Bayi dan Kematian Bayi.
Berdasarkan data di atas, penulis tertarik untuk mengambil judul “Makalah Issue-issue pada Bayi di Komunitas dan Penanganannya”.

B.     Rumusan Masalah
Dari latar belakang tersebut dirumuskan masalah “Bagaimana Upaya Pemerintah untuk Mengatasi Issue-issue pada Bayi di Komunitas?”
Ruang lingkupnya yaitu dengan adanya fasilitas pelayanan pemeriksaan bayi baru lahir di komunitas maka sebagai batasan dalam penyusunan makalah ini penulis hanya membatasi tentang Asuhan Kebidanan Komunitas pada Masalah Bayi di Komunitas.


C.     Tujuan Penulisan
Setelah melakukan pengkajian issue-issue pada bayi di komunitas diharapkan penulis mampu memberikan asuhan kebidanan komunitas sesuai dengan kewenangan bidan di komunitas.
D.      Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan makalah ini sebagi berikut :
Bab I Pendahuluan
Meliputi: Latar Belakang, Rumusan Masalah, Tujuan Penulisan, Sistematika Penulisan.
Bab II Pembahasan
Bab III Penutup Meliputi: Simpulan dan Saran






BAB II
PEMBAHASAN
A.     Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)
Bayi Berat Lahir Rendah (kurang dari 2500 gram) merupakan salah satu faktor utama yang berpengaruh terhadap kematian perinatal dan neonatal . Menurut Depkes RI BBLR bersama kehamilan prematur mengakibatkan gangguan yang menjadi penyebab nomor 3 kematian masa perinatal di rumah sakit tahun 2005 (Dinkes, 2008).
Berdasarkan profil Dinas kesehatan, dan hasil pengumpulan data indikator kesehatan propinsi yang berasal dari fasilitas pelayanan kesehatan, proporsi BBLR pada tahun 2000 berkisar antara 0,91% (gorontalo) dan 18,89% (jawa tengah), sedangkan pada tahun 2001 berkisar antara 0,54% Nangro Aceh Darussalam (NAD) dan 6,90% (sumatera utara). Angka tersebut belum mencerminkan kondisi sebenarnya yang ada di masyarakat karena belum semua berat badan bayi yang dilahirkan dapat dipantau oleh petugas kesehatan, khususnya yang ditolong oleh dukun atau tenaga non kesehatan Iainnya (Dinkes, 2008)
Secara umum Indonesia belum mempunyai angka untuk bayi berat lahir rendah (BBLR) yang diperoleh berdasarkan survey nasional. Proporsi BBLR ditentukan berdasarkan estimasi yang sifatnya sangat kasar, yaitu berkisar antara 7 - 14% selama periode 2000-2009. Jika proporsi ibu hamil adalah 2,5% dari total penduduk maka setiap tahun diperkirakan 355.000 - 71 0.000 dari 5 juta bayi lahir dengan kondisi BBLR (Profil Kesehatan,2009).

1.    Pengertian Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)
Menurut Yushanta (2001), Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi baru lahir yang berat badan lahirnya pada saat kelahiran kurang dari 2.500 gram. Dahulu neonatus dengan berat badan lahir kurang dari 2.500 gram atau sama dengan 2.500 gram disebut prematur. Pada tahun 1961 oleh WHO semua bayi yang baru lahir dengan berat lahir kurang dari 2.500 gram disebut Low Birth Weight Infants (BBLR).


2.    Penyebab Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)
Menurut Depkes (1993) terdapat tiga faktor yang mempengaruhi terjadinya BBLR, yaitu:
a.       Faktor Ibu
1)   Penyakit
Penyakit yang berhubungan langsung dengan kehamilan misalnya perdarahan antepartum, trauma fisik dan psikologis, diabetes mellitus, toksemia gravidarum, dan nefritis akut.
2)   Umur Ibu
Angka kejadian prematuritas tertinggi ialah pada usia < 20 tahun, dan multi gravida yang jarak kelahiran terlalu dekat. Kejadian terendah ialah pada usia antara 26 - 35 tahun.
3)   Keadaan Sosial Ekonomi
Keadaan ini sangat berperanan terhadap timbulnya prematuritas. Kejadian tertinggi terdapat pada golongan sosial ekonomi rendah. Hal ini disebabkan oleh keadaan gizi yang kurang baik (khususnya anemia) dan pelaksanaan antenatal yang kurang. Demikian pula kejadian prematuritas pada bayi yang lahir dari perkawinan yang tidak sah.temyata lebih tinggi bila dibandingkan dengan bayi yang lahir dari perkawinan yang sah.
4)   Sebab Lain
Ibu perokok, ibu peminum alkohol dan pecandu obat narkotik.

b.      Faktor Janin
Hidramion, kehamilan ganda dan kelainan kromosom.
c.       Faktor Lingkungan
Tempat tinggal di dataran tinggi radiasi dan zat-zat racun.



3.    Komplikasi Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)
Komplikasi yang terjadi pada bayi BBLR antara adalah:
a.       Kerusakan bernafas: fungsi organ belum sempuma.
b.      Pneumonia, aspirasi: refleks menelan dan batuk belurn sempurna.
c.       Perdarahan intraventrikuler: perdarahan spontan di ventrikel otak lateral disebabkan anoksia dan menyebabkan hipoksia otak yang dapat menimbulkan terjadinya kegagalan peredaran darah sistemik.

4.    Upaya Pemerintah Dalam Menangani Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)
Kebijakan pemerintah dalam pembangunan kesehatan menuju indonesia sehat 2010 menempatkan kesehatan ibu dan anak sebagai prioritas. Kesehatan anak merupakan aset yang akan menentukan masa depan bangsa. Salah satu indikator yang berhubungan dengan priode bayi dan neonatus adalah angka kematian bayi (AKB). Angka kematian bayi (AKB) atau Infat Mortality Rate (IMR) merupakan jumlah kematian bayi di bawah usia 1 tahun per 1000 kelahiran hidup. Angka ini merupakan indikator yang sensitif terhadap ketersedian, pemanfaatan dan kualitas pelayanan kesehatan terutama pelayanan prenatal sehingga indikator ini sering di gunakan dalam menentukan kebijakan pemerintahan. Angka kematian bayi (AKB) pada tahun pada tahun 2000 adalah 44 per 1000 kelahiran hidup berdasarkan hasil survai penduduk Antara sensus (SUPAS). Sementara estimasi SUSENAS (Survey Sosial Ekonomi Nasional), angka kematian bayi adalah 50 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2001 (Rahman, 2008). AKB telah di turunkan dengan cepat selama kurun waktu 20 tahun terakhir, namun menurut SDKI (survei Demografi dan Kesehatan Indonesia) 2002-2003, AKB masih 35 per 1000 kelahiran hidup (UNDP, 2004). Angka ini di anggap masih tinggi, oleh karena itu perlu di lakukan intervensi terhadap masalah-masalah penyebab kematian bayi untuk mendukung upaya percepatan penurunan AKB di indonesia.



B.     Angka Kematian Bayi
Berbagai point penting MDGs tersebut adalah tugas berat bagi pemerintahan Indonesia, MDGs yang ditargetkan pada tahun 2015 telah sampai dan direalisasikan oleh negara-negara peserta MDGs, berbicara di tingkatan Indonesia, sekadar mengingatkan bahwa Indonesia, menurut UN  World Population Projection dan proyeksi Bapenna, tahun 2009, jumlah penduduk Indonesia diperkirakan 234 juta jiwa dan pada tahun 2010 menjadi 238 juta jiwa dengan laju penduduk kurun lima tahun terakhir mencapai 1, 26 persen, sebuah angka yang besar dalam populasi dunia dan menjadi point utama yang harus dibenahi dalam MDGs.
Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia masih tergolong tinggi, jika dibandingkan dengan negara lain di kawasan ASEAN. Berdasarkan Human Development Report 2010, AKB di Indonesia mencapai 31 per 1.000 kelahiran."Angka itu, 5,2 kali lebih tinggi dibandingkan Malaysia. Juga 1,2 kali lebih tinggi dibandingkan Filipina dan 2,4 kali lebih tinggi jika dibandingkan dengan Thailand.

1.    Pengertian Kematian Bayi
Kematian bayi adalah kematian yang terjadi antara saat setelah bayi  lahir sampai bayi belum berusia  tepat satu tahun. Banyak faktor yang dikaitkan dengan kematian bayi.
Angka Kematian Bayi menggambarkan keadaan sosial ekonomi masyarakat dimana angka kematian itu dihitung. Kegunaan Angka Kematian Bayi untuk pengembangan perencanaan berbeda antara kematian neo-natal dan kematian bayi yang lain. Karena kematian neo-natal disebabkan oleh faktor endogen yang berhubungan dengan kehamilan maka program-program untuk mengurangi angka kematian neo-natal adalah yang bersangkutan dengan program pelayanan kesehatan Ibu hamil, misalnya program pemberian pil besi dan suntikan anti tetanus.

2.    Penyebab Kematian Bayi
Tiga penyebab utama kematian bayi adalah infeksi saluran pernafasan akut (ISPA), komplikasi perinatal dan diare. Gabungan ketiga penyebab ini memberi andil bagi 75% kematian bayi. Pada 2001 pola penyebab kematian bayi ini tidak banyak berubah dari periode sebelumnya, yaitu karena sebab-sebab perinatal, kemudian diikuti oleh infeksi saluran pernafasan akut (ISPA), diare, tetanus neotarum, saluran cerna, dan penyakit saraf. Pola penyebab utama kematian balita juga hampir sama yaitu penyakit saluran pernafasan, diare, penyakit syaraf – termasuk meningitis, encephalitis dan tifus.
a.          Faktor Ibu
1)        Masa Kehamilan
a)      ANC
b)      Infeksi ibu hamil : rubela, sifilis, gonorhoe, malaria
c)      Gizi ibu hamil.
d)      Karakteristik ibu hamil : umur, paritas, jarak.
2)        Persalinan
a)      Partus macet/ lama : letak sunsang, bayi kembar, distocia.
b)      Tenaga Penolong Kehamilan.

b.         Faktor Janin
1)       Umur 0 – 7 hari : BBLR, Asfiksia
2)       Umur 8 – 28 hari : pneumonia, diare, tetanus, sepsis, kelainan kogenital.

3.    Pencegahan Kematian Bayi
Kematian bayi baru lahir dapat dicegah dengan intervensi lingkungan dan perilaku. Upaya penyehatan lingkungan seperti penyediaan air minum, fasilitas sanitasi dan higienitas yang memadai, serta pengendalian pencemaran udara mampu meredam jumlah bayi meninggal. "Untuk itu pemerintah tidak lelah mengampanyekan pentingnya upaya kesehatan lingkungan dan perilaku hidup sehat”. Perawatan sederhana seperti pemberian air susu ibu (ASI) dapat menekan AKB. Telah terbukti, pemberian ASI eksklusif dapat mencegah 13% kematian bayi dan bahkan 19/0 jika dikombinasikan dengan makanan tambahan bayi setelah usia 6 bulan.

4.    Penanggulangan Kematian Bayi
Dari gambaran penyakit penyebab kematian neonatal di Indonesia, dan permasalahan kesehatan neonatal yang kompleks dimana dipengaruhi oleh faktor medis, sosial dan budaya (sama dengan permasalahan kesehatan maternal) maka:
a.          Bidan di desa atau petugas kesehatan harus mampu melakukan:
1)   Perawatan terhadap bayi neonatal.
2)   Promosi perawatan bayi neonatal kepada ibunya.
3)   Pertolongan pertama bayi neonatal yang mengalami gangguan atau sakit.
b.         Kepala Puskesmas dan jajarannya mempunyai komitmen yang
tinggi dalam melaksanakan:
1)   Deteksi dan penanganan bayi neonatal sakit
2)   Persalinan yang ditolong/didampingi oleh tenaga kesehatan
Pembinaan bidan di desa dan pondok bersalin di desa
PONED dengan baik dan lengkap (obat, infus, alat-alat emergensi).
3)   Organisasi transportasi untuk kasus rujukan
c.         Kepala Dinkes Dati II dan atau RS Dati II dan jajarannya mempunyai komitmen yang tinggi dalam melaksanakan:
1)      Fungsi RS Dati II sebagai PONEK 24 jam.
2)      Sistem yang tertata sehingga memberi kesempatan kepada keluarga bayi neonatal dari golongan tidak mampu untuk mendapatkan pelayanan standar, termasuk pertolongan gawat darurat di RS Dati II dengan biaya terjangkau.
3)      Pelayanan berkualitas yang berkesinambungan.
4)      Pembinaan teknis profesi kebidanan untuk bidan yang bekerja.
5)      Puskesmas/desa melalui pelatihan, penyegaran pengetahuan dan keterampilan, penanganan kasus rujukan.
d.         Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan neonatal emergency care di Puskesmas dan RS Dati II.

C.     Diare pada Bayi
Diare merupakan salah satu masalah kesehatan utama di negara berkembang, termasuk indonesia. Di Indonesia, penyakit diare adalah salah satu
penyebab kematian utama setelah infeksi saluran pernafasan. Angka kematian akibat diare di Indonesia masih sekitar 7,4%. Sedangkan angka kematian akibat diare persisten lebih tinggi yaitu 45% (solaiman, EJ, 2001). Sementara itu, pada survey morbiditas yang dilakukan oleh depkes tahun 2001, menemukan angka kejadian diare di indonesia adalah berkisar 200-374 per 1000 penduduk. Sedangkan menurut SKRT 2004, angka kematian akibat diare 23 per 100 ribu penduduk dan angka kematian akibat diare pada balita adalah 75 per 100.000 balita.
Insiden penyakit diare yang berkisar antara 200-374 dalam 1000 penduduk, dimana 60-70% diantaranya anak-anak usia dibawah 5 tahun. Penyakit diare ini adalah penyakit yang multi faktoral, dimana dapat muncul karena akibat tingkat pendidikan dan sosial ekonomi yang kurang serta akibat kebiasaan atau budaya masyarakat yang salah. Oleh karena itu, keberhasilan menurunkan serangan diare sangat tergantung dari sikap setiap anggota masyarakat, terutama membudayakan pemakaian larutan oralit dan cairan rumah tangga pada anak yang menderita diare.

1.    Pengertian Diare
Diare adalah defekasi encer lebih dari 3x sehari dengan atau tanpa darah dan atau lendir dalam tinja (Suandi, 1999).

2.    Penyebab Diare
Menurut Suandi, 1999 ditinjau dari patofisiologinya sebagai berikut:
a.         Diare Sekresi (virus atau kuman, hiperperistaltik usus halus, defisiensi imun atau SIgA).
b.         Diare Osmotik (malabsorpsi makanan, Kurang Energi Protein, BBLR).

3.    Pencegahan Diare
Salah satu pencegahan diare adalah dengan memberikan ASI Eksklusif kepada bayi selama 6 bulan, karena ASI memberi semua energi dan gizi (nutrisi) yang dibutuhkan bayi selama 6 bulan. Selain itu, ASI juga mengandung sistem kekebalan tubuh yang baik untuk kekebalan tubuh bayi. Pemberian ASI Eksklusif mengurangi tingkat kematian bayi yang disebakan oleh diare.
Apabila bayi benar-benar mengalami diare tidak ada alasan sama sekali untuk menghentikan ASI karena ASI mengandung banyak manfaat.

4.    Penanganan Diare
Pemerintah telah membuat berbagai kebijakan untuk mengatasi persoalan kesehatan anak, khususnya untuk menurunkan angka kematian anak, diantaranya sebagai berikut:
a.       Meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dan pemerintah pelayanan kesehatan.
Untuk meningkatkan mutu pelayanan serta pemerintahan pelayanan kesehatan yang ada di masyarakat telah di lakukan berbagai upaya, salah satunya adalah dengan meletakkan dasar pelayanan kesehatan pada sektor pelayanan dasar. Pelayanan dasar dapat dilakukan di perpustakaaan  induk, perpustakaan pembantu,posyandu,serta unit-unit yang berkaitan di masyarakat. Bentuk pelayanan tersebut dilakukan ndalam rangka jangkauan pemerataan pelayanan kesehatan. Upaya pemerataan tersebut dapat dilakukan dengan penyabaran bidan desa, perawat komuniksi,fasilitas balai kesehatan,pos kesehatan, desa, dan puskesmas keliling.
b.      Meningkatkan status gizi masyarakat
Peningkatkan status gizi masyarakat merupakan merupakan bagian dari upaya untik mendorong terciptanya perbaikan status kesehatan. Dengan pemerintah gizi yang baik diharapkan pertumbuhan dan perkembangan anak akan baik pula, disamping dapat memperbaiki status kesehatan anak. Upaya tersebut dapat dilakukan malalui berbagai kegiatan,di antaranya upaya perbaikan gizi keluarga atau dikenal dengan nama UPKG. Kegiatan UPKG tersebut didorong dan diarahkan pada peningkatan status gizi, khususnya pada masyarakat yang rawan atau memiliki resiko tinggi terhadap kematian atau kesakitan. Kelompok resiko tinggi terdiri anak balita, ibu hamil, ibu menyusui, dan lansia yang golongan ekonominya rendah. Melalui upaya tersebut. Peningkatan kesehatan akan tercakup pada semua lapisan masyarakat khususnya pada kelompok resiko tinggi.
c.       Meningkatkan peran serta masyarakat
Peningktan oeran serta masyarakat dalam membantu ststus kesehatan  inin penting, sebab upaya pemerintah dalam rangka menurunkan kematian bayi dan anak tidak dapat dilakukan hanya oleh pemerintah, melainkan peran serta masyarakat dengan keterlibatan atau partisipasi secara langsung. Upaya masyarakat tersebut sangat menentukan keberhasilan proram pemerintah sehingga mampu  mangatasi berbagai masalah kesehatan. Melalui peran serta masyarakat diharapkan mampu pula nbersifat efektif dan efisien dalam pelayanan kesehatan. Upaya atau program kesehtan antara lain pelayanan imunisasi, penyedian air bersih, sanitasi lingkungan, perbaikan gizi dan lain-lain. Upaya tersebut akan memudahkan pelaksanaan program kesehatan yang tepat pada sasaran yang ada.
d.      Meningkatkan manajemen kesehatan 
Upaya meningkatan program pelayanan keshatan anak dapat berjalan dan berhasil dengan baik bila didukung dengan perbaikan dalam pengelolaan pelayanan kesahatan. Dalam hal ini adalah meningkatan manajemen pelayanan malalui pendayagunaan tenaga kesehatan profesonal yang mampu secara langsung mengatasi masalah kesehatan anak. Tenaga kesehatan yang dimaksud antara lain tenaga perawat, bidan,dokter yang berada diperpustakaan yuang secara langsung berperan dalam pemberian pelayanan kesehatan.




BAB III
PENUTUP

1.    Simpulan
MDGs adalah kerja sama yang saling menguntungkan bagi negara-negara pesertanya karena dapat menyelesaikan permasalahan yang sedang dihadapai oleh suatu Negara secara bersama-sama. Seperti yang kami bahas disini adalah mengenai diare pada bayi, bayi berat lahir rendah dan kematian bayi. Diare dan bayi berat lahir rendah apabila tidak dikelola dengan baik maka akan bermuara pada kematian bayi, sehingga akan semakin meningkatkan Angka Kematian Bayi.
Pada dasarnya Angka Kematian Bayi dapat dikurangi dengan cara mengurangi atau meniadakan factor-faktor penyebab dari kematian anak tersebut. Seperti telah dijelaskan di atas jumlah kematian bayi di Indonesia masih sangat tinggi.
Adapun solusi yang dapat kami berikan yaitu dengan membenahi pihak-pihak yang berada dalam pemerintahan yang diberikan wewenang dan tanggung jawab oleh presiden, peran menteri kesehatan juga sangat penting disini. Peran tenaga kesehatan juga perlu dipertanyakan apakah sudah melaksanakan kewajibannya atau tidak. Dan juga apakah kompetensi yang dimiliki sudah baik atau perlu bimbingan dan belajar untuk meningkatkan pengetahuannya.

2.    Saran

1.    Bagi Pemerintah
Pemerintah hendaknya merencanakan program-program baru yang lebih efektif untuk menangani masalah-masalah kebidanan di komunitas. Selain itu diperlukan evaluasi dari pemerintah terhadap program-program terdahulu yang telah dilaksanakan agar pemerintah mengetahui keefektifan prgram tersebut.

2.    Bagi Bidan
Sebaiknya bidan melaksanakan program-program yang telah pemerintah tetapkan dan melaksanakan asuhan kebidanan komunitas sesuai dengan kewenangannya dan kebutuhan masyarakat di komunitasnya. Selain itu hendaknya bidan mampu melaksanakan perannya sebagai pendidik di masyarakat, seperti memberikan pendidikan kesehatan terhadap kader kesehatan di masyarakat mengenai upaya-upaya promotif dan preventif agar kader tersebut mampu membagikan ilmu yang didapatnya dari bidan kepada masyarakat yang lebih luas.

3.    Bagi Masyarakat
Sebaiknya masyarakat lebih tanggap terhadap permasalahan yang ada di daerahnya. Serta lebih aktif dalam perannya sebagai kader kesehatan, misalnya menggalakkan upaya-upaya kesehatan, terutama upaya-upaya kesehatan promotif.













DAFTAR PUSTAKA

Mansjoer, Arif dkk. 2009. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: EGC
Suandi, I.K.G. 1999. Seri Gizi Klinik Diit pada Anak Sakit. Jakarta: EGC
WHO. 2007. Penyakit Bawaan Makanan Fokus Pendidikan Kesehatan. Jakarta: EGC
Yuliarti, Nurheti. 2010. Keajaiban ASI Makanan Terbaik untuk Kesehatan, Kecerdasan dan Kelincahan si Kecil. Yogyakarta: Andi

Artikel Terkait