Monday, May 25, 2015

INFEKSI MENULAR SEKSUAL


       Infeksi menular seksual (IMS) disebut juga Penyakit menular seksual (PMS) atau dalambahasa Inggrisnya sexually transmitted disease (STD), sexually transmitted infection (STI) orvenereal disease (VD). Infeksi (lebih tepatnya infeksi-infeksi) yang digolongkan dalamIMS/PMS salah satu cara penularannya melalui hubungan seksual (vaginal, oral, anal)dengan pasangan yang sudah tertular. Jenisnya sangat banyak, semakin sering kita berganti-ganti pasangan seks semakin besar kemungkinan tertular (bisa saja tertular berbagai macamvirus, bakteri, jamur, dan protozoa dalam tubuh kita). Ada jenis yang efeknya terasa dalam 3hari sesudah terpajan (terkena), ada pula yang membutuhkan waktu lama. Sebaiknya IMScepat diobati karena menjadi pintu gerbang masuknya HIV ke dalam tubuh kita.

     Penularan IMS
Penularan IMS juga dapat terjadi dengan cara lain, yaitu :
-Melalui darah :
  transfusi darah dengan darah yang sudah terinfeksi HIV, saling bertukar jarum suntik pada pemakaian narkoba, tertusuk jarum suntik yang tidak steril secara sengaja/tidak sengaja, menindik telinga atau tato dengan jarum yang tidak steril, penggunaan alat pisau cukur secara bersama-sama (khususnya jika terluka danmenyisakan darah pada alat).
-Dari ibu hamil kepada bayi :saat hamil, saat melahirkan, saat menyusui.

      Jenis-jenis IMS
1. HIV/ AIDS
Apakah AIDS itu?
      AIDS (Acquired immunodeficiency syndrom). Artinya sindrom/kondisi/keadaan yang menunjukkan gejala dimana tubuh kehilangan/kekurangan kekebalan tubuh. Sedangkan HIV adalah virus-nya yang menyebabkan tubuh kehilangan kekebalan terhadap penyakit tadi. HIV menyerang sel CD4 yaitu sel yang bertugas memberi kode apakah suatu benda asing yang masuk ke dalam tubuh kita itu adalah musuh atau bukan, kode ini akan dibaca oleh sel pembunuh CD8.

      HIV merupakan jenis virus dengan beberapa varian yang menyebabkan seseorang kehilangan kekebalan tubuh perlahan tapi pasti. Virus ini menular dari satu manusia ke manusia yang lain.
Dalam 2 minggu sampai 3 bulan, HIV yang telah masuk ke dalam tubuh tidak akan dapat dideteksi oleh sistem tes darah di laboratorium, karena HIV bersembunyi sambil bereplikasi dalam sel-sel CD4 yaitu anggota sistem imun tubuh yang bertugas memberikan informasi jenis penyakit kepada limposit, makrofag, dan sel pembunuh CD8. HIV suka bersarang di tempat-tempat produksi/markasnya CD4. Dengan cara halus dan ‘bersahabat’, virus ini masuk kedalam sel CD4 dan mereplikasi/menggandakan dirinya di dalam sel tsb. Akibatnya sel tersebut menjadi sakit dan akhirnya mati.

      Tapi lambat laun, tubuh akhirnya bisa membuat antibodi/penanda untuk virus ini. Namun virus ini terus menerus menyerang dan bereplikasi pada CD4. HIV Baru keluar dari CD4 dengan jumlah ribuan virus baru, sebagian terbunuh, sebagian lagi masuk ke sel-sel CD4 lain yang masih sehat. Nah, karena CD4 sendiri terbagi menjadi banyak jenis spesialisasi tergantung jenis kuman maka lambat laun, sel-sel CD4 yang memiliki kemampuan memerangi penyakit tertentu akan musnah. karena musnah, maka tentu saja tidak bisa menggandakan diri. Dan tubuh akan mulai kewalahan memerangi penyakit-penyakit tertentu yg biasanya gampang sekali dimusnahkan dengan bantuan informasi dari CD4. ini lah yang disebut masa-masa stadium awal AIDS.

      Proses perusakan sel CD4 ini berlangsung cukup lama (tapi pasti) yaitu antara 2-10 tahunan bahkan lebih, tergantung daya tahan tubuh, nutrisi yg kita makan, dan kebiasaan pola hidup kita. Kalo daya tahan tubuh lemah, cuma 2 taunan bisa memasuki tahap AIDS.

Bagaimana orang bisa tertular HIV?
      Virus ini berenang di cairan-cairan tubuh yang ada CD4-nya. Paling banyak di cairan otak, di darah, air susu, sperma, cairan vagina. Paling banyak ditemukan pada cairan otak dan darah. Oleh sebab itu, banyak orang bisa tertular bila ada pintu masuk dan pintu keluar darah. Contoh adanya luka/ iritasi. Penularan virus bisa mencapai 100 % jika melalui jalur transfusi darah yg tidak di screening ketat. Juga lewat pertukaran jarum suntik antar penggunda narkoba.
Kemungkinan penularan lain adalah melalui hubungan seksual baik vaginal, maupun anal. Bagaimana dengan ciuman/kiss? bisa saja tertular jika ada luka/lesi di mulut. Kuncinya adalah HIV ini perlu jalan masuk menuju darah.

      Juga volume darah yang akan terkontaminasi ikut menentukan seberapa ‘berhasilnya’ infeksi HIV terjadi. Semakin banyak darah yang terlibat maka semakin besar kemungkinan terjadinya penularan.
HIV tidak dapat berpindah/ditularkan melalui gigitan nyamuk, karena jika nyamuk menggigit seorang pengidap HIV (ODHA), maka HIV dari darah ODHA tersebut akan memasuki saluran pencernaan nyamuk. Di sini tidak ada sel CD4 manusia yang dibutuhkan HIV, sehingga virus ini akan segera mati dan dihancurkan oleh enzim-enzim di dalam sistem pencernaan nyamuk tersebut.
Pada kasus malaria, kuman pada nyamuk itu bukan virus tapi sejenis protozoa. Di dalam tubuh nyamuk, protozoa tersebut dapat berkembang biak menjadi sporozoit, yang kemudian akan pindah ke kelenjar air liur nyamuk. Ketika nyamuk menggigit seseorang, maka bersama air liur nyamuk tersebut akan terbawa sporozoit kuman malaria, masuk ke dalam tubuh orang tersebut.
Bagaimana dengan ‘jarum suntik’ pada mulut nyamuk? cara kerja jarum suntik/mulut yang dimiliki nyamuk berbeda dengan jarum suntik yang dipakai seperti pada suntikan untuk medis atau pemakai drug. Jarum suntik biasa hanya memiliki 1 lorong/saluran (keluar masuk cairan hanya lewat satu lorong itu saja), sedangkan pada nyamuk memiliki dua lorong, yang satu digunakan untuk mengeluarkan air liur (sebelum menghisap darah) dan satunya untuk mengisap darah. Namun keduanya tidak menjadi satu. Yang satu berasal dari tempat pembuatan/penyimpanan air liur, sedangkan yg lain berpangkal/menuju ke pencernaanya.

Gejala HIV/AIDS
      Gejalanya sendiri, AIDS disebabkan oleh HIV yang merusak salah satu jenis sel darah putih yaitu sel limfosit atau sel T helper atau CD4. Sel darah putih merupakan pengendali bagi sistem pertahanan tubuh.Jika sel darah putih hancur akan mengakibatkan lumpuhnya fungsi pertahanan tubuh.Sementara itu, perjalanan infeksinya gejala/tanda-tanda seorang pengidapHIV/AIDS terjadi antara satu sampai dengan enam bulan.Gejala yang timbul berupa flu biasa, pada tahap ini, tes darah masih belumdapat menunjukkan adanya HIV (anti HIV negatif).
Masa HIV positif (tanpa gejala). Pada masa ini seseorang yang terinfeksiHIV sudah dapat diketahui melalui tes HIV (anti HIV reaktif). Masa iniberlangsung selama lima s/d sepuluh tahun dengan tanpa gejala(asimptomatik), belum menunjukkan perubahan fisik dan masih dapatmelakukan aktivitas.
Masa pembesaran kelenjar limfe (bergejala ringan). Masa ini ditandaidengan pembesaran kelenjar limfe secara menetap dan merata, tidak hanya muncul pada satu tempat dan berlangsung lebih dari satu bulan.

      Masa AIDS setelah melewati masa inkubasi (dua sampai sepuluh tahun),seseorang yang terinfeksi HIV akan mengalami penderitaan sebagai gejalademam berkepanjangan, selera makan menurun, sariawan, diare terus-menerus tanpa sebab yang jelas.Selain itu, pembengkakan kelenjar prostatdan getah bening, bercak-bercak merah di kulit dan berat badan turun dratis.Pada masa ini sisitem kekebalan tubuh sudah sangat menurun, danpengidap HIV berkembang menjadi penderita AIDS yang sangat rentanterhadap berbagai ancaman infeksi oportunistik seperti radang paru, radangsaluran pencernaan, kanker kulit, radang karena jamur di mulut dankerongkongan, gangguan susunan syaraf dan tuberkulosis (TB). Umumnyasekitar satu s/d dua tahun setelah gejala AIDS muncul, penderita akan meninggal dunia.


 PENCEGAHAN HIV/AIDS
      Pemerintah maupun lembaga masyarakat telah banyak melakukan terobosan-terobosanuntuk mencegah penyebaran HIV AIDS. Beberapa membuahkan hasil, namun tetap sajapenularan melalui hubungan seks menjadi peringkat atas yang sulit dihindari. Berikut inibeberapa tips yang bisa Anda ikuti atau anjurkan bagi lingkungan Anda untuk menghambatpenularan HIV AIDS.
Save sex, hendaklah Anda setia pada pasangan Anda dan lakukan hubungan seksual yangpatut
Menghindari seks bebas, baik dengan pekerja seks komersial dan berganti-ganti pasangan
Jika pasangan anda sudah terbukti mengidap HIV AIDS, dalam melakukan hubungan seksualsebaiknya menggunakan kondom
Penularan HIV AIDS melalui transfusi darah menempati peringkat kedua. Jadi sebisamungkin hindari melakukan transfusi darah.
•Hindari penggunaan obat-obat terlarang, penggunaan alat suntik bersama, tattoo, dantindik
Bagi seorang ibu yang mengidap HIV AIDS, sebaiknya tidak hamil, untuk menghambatpenularan ke bayi yang akan dilahirkan.


2. GONORHEA (GO)
            DEFINISI
     Gonore (GO) adalah penyakit menular seksual (PMS), yang disebabkan oleh kuman yang bernama Neisseria Gonorrhoaea yang menginfeksi lapisan dalam uretra, leher rahim, rektum (usus bagian bawah), tenggorokan maupun bagian putih mata (Gonorhoaea Conjugtiva). Gonore bisa menyebar melalui aliran darah kebagian tubuh lainya ,terutama kulit dan persendian, pada wanita, gonore bisa naik ke saluran kelamin dan menginfeksi selaput didalam panggul sehingga menimbulkan nyeri panggul dan gangguan reproduksi.
   
     Gonokok termasuk golongan diplokok berbentuk biji kopi berukuran lebar 0,8µ dan panjang 1,6µ bersifat tahan asam. Pada sediaan langsung dengan gram bersifat negatif gram, terlihat di lua dan didalam leukosit, tidak tahan asam di udara bebas, cepat mati dalam keadaan kering, tidak tahan suhu diatas 39C dan tidak tahan zat desinfektan.
          
     Secara morfologi gonokok ini terdiri dari 4 jenis tipe yaitu tipe 1 dan 2 yang mempunyai oili yang bersifat virulen, serta tipe 3 dan 4 yang tidak mempunyai pili dan bersifat nonvirulen. Pili akan melekat pada mukosa epitel dan akan menimbulkan reaksi radang. Daerah yang paling mudah terinfeksi adalah daerah mukosa epitel kuboid atau lapis gepeng yang belum berkembang ( immature ) yakni pada vagina wanita sebelum pubertas.
           
     Pada tahun 1976  CDC di Amerika serikat menemukan Neisseria Gonore penghasil penisilinase  (NGPP) dari penderita gonore yang pernah bertugas di Vietnam dan pada tahun yang sama di ketemukan NGPP di belanda oleh seorang pramugari penerbangan yang pernah berkencan dengan seorang philipina. Pada tahun 1980 wijaya di jakarta menemukan kasus NGPP pada satu lokasi pelacuran. Pada tahun 1981 Hutapea berkerja sama dengan state’s  Institute Copenhagen melaporkan adanya NGPP di medan. Pada tahun yang sama Nasution dan Iswara melaporkan bahwa di medan 16,7% penyebab gonore adalah NGPP. Pada saat ini lebih dari 50% penderita gonore di sebabkan olen NGPP.
           
      Gonore disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae. Bakteri ini dapat menular ke orang lain melalui hubungan seksual dengan penderita. Penyakit ini juga dapat menular dari ibu ke bayinya saat melahirkan. Kita tidak akan terinfeksi gonore dari pemakaian handuk bersama maupun pemakaian toilet umum.

IV.    PATOGENESIS
     Gonokokus menempel pada sel epitel melalui vili yang ada di permukaan bakteri,kemudian difagositosis, berkembangbiak dan menginduksi reaksi peradangan leukositer. Pada umumnya penularannya melalui hubungan kelamin yaitu secara genito-genital,orogenital (oral sex dengan penderita gonore biasanya akan menyebabkan faringitis gonokokal) dan anogenital.  tetapi disamping itu dapat juga terjadi manual melalui alat – alat , pakaian , handuk , thermometer dan sebagainnya. Transmisi Neisseria gonorrhoeae dari tempat duduk toilet di temukan pada bulan agustus 2003 pada anak wanita berusia 8 tahun.
   
      Ibu hamil yang terinfeksigonore dapat menularkan ke bayinya selama proses persalinan. Conjungtivitis gonore merupakan penyebab utama kebutaan pada bayi yang baru lahir,jadi jika di ketahui ada  resiko penularan gonore maka dapat diberikan silver nitrat atau medikasi lain pada mata bayi scepatnya setelah dilahirkan. Karena adanya resiko penularan secara vertikal maka sebaiknya ibu hamil dilakukan pemeriksaan untuk gonre selama hamil.
  
      Meskipun telah banyak peningkatan dalam pengetahuan tentang patogenesis dari mikroorganisme, mekanisme molekular yang tepat tentang invasi gonokokkus ke dalam sel host tetap belum diketahui. Ada beberapa faktor virulen yang terlibat dalam mekanisme perlekatan, inflamasi dan invasi mukosa. Pili memainkan peranan penting dalam patogenesis gonore. Pili meningkatkan adhesi ke sel host, yang mungkin merupakan alasan mengapa gonokokkus yang tidak memiliki pili kurang mampu menginfeksi manusia. Antibodi antipili memblok adhesi epithelial dan meningkatkan kemampuan dari sel fagosit. Juga diketahui bahwa ekspresi reseptor transferin mempunyai peranan penting dan ekspresi full-length lipo-oligosaccharide (LOS) tampaknya perlu untuk infeksi maksimal.
  
      Daerah yang paling mudah terinfeksi ialah daerah epitel kolumnar dari uretra dan endoserviks, kelenjar dan duktus parauretra pada pria dan wanita, kelenjar Bartolini, konjungtiva mata dan rectum. Infeksi primer yang terjadi pada wanita yang belum pubertas terjadi di daerah epitel skuamosa dari vagina

V.    GEJALA KLINIK
   
GONORE GENITALIS PADA PRIA


    Masa tunas sangat singkat , para pria umumnya bervariasi antara 2-5 hari, kadang – kadang lebih lama dan hal ini disebabkan karena penderita telah mengobati diri sendiri, tetapi dengan dosis yang tidak cukup atau gejala sangat samar sehngga tidak di perhaikan oleh penderita. Pada wanita masa tunas sulit di tentukan karena pada umumnya asimptomatik. Gambaran klinis dan komplikasi gonore sangat erat hubungannya dengan susunan anatomi dan faal genitalia. Pada pria gejala penyakit ini diawali dengan adanya gangguan ringan pada saluran kencing diikuti dengan rasa nyeri dalam berbagai tingkatan ketika kencing.Muara saluran kencing pada penis dapat berwarna merah dan mengalami pembengkakan.

Infeksi pertama
1.    Uretritis
    Uretritis anterior akut merupakan bentuk gonore yang tersering pada pria. keluhan subjektif berupa rasa gatal , panas, dibagian distal uretra disekitar orifisium uretra eksternum, kemudian disusul disuria , polakisuria, keluar duh tubuh tubuh dari ujung uretra yang kadang – kadang disertai perasaan nyeri waktu ereksi.
   
      Pada pemeriksaan fisik tampak orifisium uretra eksternum eritematosa , edemtosa dan ektropion. Tampak duh tubuh yang mukopurulen, dan pada beberapa kasus dapat terjadi pembesaran kelenjar getah bening inguinal unilateral atau bilateral.


Uretritis posterior akut merupakan perluasan pada suatu uretritis anterior tidak di obati disertai gambaran klinis yang makin hebat. Dapat juga terjadi gonore kronik. Gonore kronik merupakan gonore yang tidak di obati atau diobati tidak sempurna dapat menjadi kronis dengan gejala yang lambat laun mereda.
 
Komplikasi lokal
1.    Tysonitis
    Kelenjar tyson ialah kelenjar yang menghasilkan smegma. Infeksi biasanya terjadi paada penderita dengan preputium yang sangat panjang dan kebersihan yang kurang baik. Diagnosis dibuat berdasarkan ditemukan butir pus atau pembengkakan pada daerah frenulum yang nyeri tekan. Bila duktus tertutup akan timbul abses dan  merupakan sumber infeksi laten.

2.    Paraureritis
    Sering pada orang dengan orifisium eksternum yang terbuka atau hipospadi. Infeksi pada duktus ditandai dengan butir pus pada  kedua muara parauretra.

3.    Litritis
Tidak ada gejala khusus hanya pada urin ditemukan benang – benang atau butir – butir. Bila salah satu saluran tersumbat, dapat terhjadi abses folikular. Didiagnosis dengan uretroskopi.

4.    Cowpreritis
    Keluhan berupa nyeri  dan adanya benjolan  pada daerah perineum disertai rasa penuh dan panas, nyeri pada waktu defekasi dan disuria.

Komplikasi asenden

1.    Prostatitis
    Prostatitis akut ditndai dengan perasaan tidak enak didaerah perineum  dan suprapubis , malese, demam , nyeri kencing sampai hamaturi, spasme otot uretra  sehingga terjadi  retensi urin,tenesmus ani, sulit buang air besar dan obstipasi.
    Pada pemeriksaan teraba pembesaran prostat dengan konsistensi kenyal, nyeri tekan dan fluktuasi bila telah terjadi abses. Jika tidak diobati abses akan pecah masuk ke uretra  posterior atau kearah rektum mengakibatkan proktitis.

2.    Vesikulitis
    Gejala subyektif merupakan gejaka  protatis akut. Pada pemeriksaan melalui rectum dapat diraba vesikula seminalis yang membengkak dan keras seperti sosis,memanjang seperti prostat.

3.    Vas deferentitis
    Gejala berupa perasaan nyeri pada daerah abdomen bagian bawah pada sisi yang sama.

4.    Epididimitis
    Epididimitis akut biasanya unilateral dan setiap epididimitis biasanya disertai deferntitis. Keadaan yang mempermudah timbulnya epididimitis adalah trauma pada uretra posterior yang disebaklan oleh salah penanganan atau kelalaian penderita sendiri. Faktor yang mempengaruhi keadaan  ini antara lain irigasi yang terlalu sering dilakukan, cairan irigator terlalu panas atau pekat , instrumentasi yang kasar atau aktivitas seksual yang berlebihan. Epididimitis dan alur spermatika  membengkak dan teraba panas, juga testis sehingga menyerupai hidrokel sekunder
            
5.    Trigonitis
    Trigonitis menimbulkan  gejala poliuria, disuria terminal  dan hematuria

GONORE GENITALIS PADA WANITA


Pada awalnya wanita tidak memperlihatkan gejala-gejala (asymptomatik). Pada wanita dewasa biasanya tidak menyerang vagina. Biasanya gejala pada mereka malah timbul berbulan-bulan setelah terjadinya infeksi. Penyakit ini kemungkinan dapat ditemukan hanya pada satu pasangan walaupun sudah mengenai keduanya. 
Namun pada memperlihatkan gejala seperti: ingin buang air kecil, nyeri waktu kencing, keputihan dan demam.  Gonore dapat menyebabkan infeksi pada indung telur, saluran telur dan saluran kencing dan menyebabkan nyeri hebat dalam panggul.  

INFEKSI PERTAMA

1.    Uretritis
    Biasanya gejala ringan atau tanpa gejala, fluor sedikit. Gejala utama ialah disuria, kadang – kadang poliuria. Pada pemeriksaan orifisium uretra ekstrnum tampak merah , edematosa dan ada sekret mukopurulen.
2.    Servisitis
    Biasanya gejala ringan , dapat asymptomatis. Pada pemeriksaan tampak  serviks merah dengan erosi dan sekret mukupurulen

Komplikasi lokal

1.    Parauretritis
    Atau nama lainnya penyumbatan saluran kencing
2.    Bartholitis
    Labium mayora pada sisi yang terkena membengkak , merah dan nyeri tekan. Kelenjar bartholini membengkak dan nyeri sekali bila penderita berjalan dan penderita sukar untuk duduk. Bila saluran kelenjar tersumbat dapat timbul abses dan dapat pecah melalui mukosa kulit. Kalau tidak di obati dapat menjadi rekuren atau menjadi kista.

Komplikasi asenden


1.    Salpingitis
2.    P.I.D ( pelvic inflammatory disease)

Cara infeksi langsung dari serviks melalui tuba sampai pada daerah salping dan ovarium sehingga dapat menimbulkan penyakit radang panggul ( RPR) atau pelvic inflammatory disease ( P.I.D ). Gonore dapat menyebabkan PID ( suatu kondisi medis yang serius yang dapat berkembang biak menjadi infertilitas.

Kira – kira 10% wania dengan gonore akan berakhir dengan PRP. Gejalanya terasa nyeri pada abdomen bagian bawah , duh tubuh vagina, disuria dan menstruasi yang teratur atau abnormal. Unruk menegakkan diagnosa dapat dilakukan pungsi kavum douglas dan dilanjutkan kultur atau dengan laparoskopi mikroorganisme.

GONORE EKSTRAVAGINALIS

1.    Gonore – orofaringeal
    Gonore mukosa ekstragenitalis dapat ditularkan secara seksual atau non – seksual. Cara infeksi melalui kontak secara orogenital. Faringitis dan tonsilitis gonore lebih sering dari pada gingivitis , stomatitis atau laryngitis.  keluhan sering bersifat asimptomatik. Bila ada keluhan  sukar di bedakan dengan infeksi tenggorokan akibat kuman lain. Pada pemeriksaan daerah orofaring tampak eksudat mukopurulen yang ringan atau sedang.

2.    Gonore – anorektal
    Misalnya pruritis ani, proktitis, fisura ani.  Proktitis pada pria dan wanita umumnya asimptomatik. Pada wanita dapat juga terjadi karena kontaminasi dari vagina dan kadang – kadang karena hubungan genitoanal seperti pada pria. Keluhan pada wanita biasanya lebih ringan daripada pria seperti terbakar pada daerah anus dan pemeriksaan tampak mukosa eritematosa dan dapat tertutup pus mukopurulen.1  selain itu itu penderita akan merasakan tidak nyaman disekiar anus nya dan rektumnya keluar cairan seta tinjanya terbungkus oleh lendir dan nanah.

3.    Blefarokonjungtivitis
    Pada orang dewasa infeksi terjadi karena penularan pada konjungtiva melalui tangan atau alat – alat. Keluhannya berupa fotopobia, konjungtiva bengkak dan merah  dan keluar eksudat mukopurulen. Bila tidak di obati dapat berakibat terjadinya ulkus kornea, panoftalmitis sampai timbul kebutaan. 
Jika cairan tubuh yang mengandung kuman ini mengenai mata seseorang dapat   timbul konjuntivitis gonore (radang mata kencing nanah).
Untuk mengetahui adanya penyakit ini biasanya dilakukan sebagian besar dilakukan dengan pemeriksaan analisa contoh cairan yang diambil dari saluran kencing.  Walaupun tidak ada pemeriksaan darah spesifik untuk mendeteksi adanya kuman gonore namun demikian penting sekali untuk mengambil contoh darah karena ada kemungkinan saja seseorang sekaligus juga tertular dengan PMS lain seperti sifilis atau AIDS.
    Bayi yang baru lahir yang terinfeksi gonore , mtanya merah dan bengkak. Dalam waktu 1-5 hari setelah kelahiran , mata itu akan mengeluarkan cairan yang kental. Kebutaan Bisa terjadi bila pengobatan khusus tidak segera di berikan.

GONORE HEMATOGEN

Melalui penyebaran gonokokus secara hematogen pada gonoreakut atau kronik dapat terjadi bentuk gonore yang jarang di temukan.
1.    Selapis - gonokokus : biasanya berjalan ringan dengan gejala trias : demam ( intermiten) , menyerang persendian ( atralgi, poliartritis ) dan vasikulitis kulit ( lesi hemoragk biasanya pada akral ekstremitas )
2.    Monoartritis gonoroika : Artritis purulenta akut ini biasanya di persendian lutut dan siku

PENYEBAB
Bakteri Neisseria gonorrhoeae.

GEJALA
      Pada pria, gejala awal biasanya timbul dalam waktu 2-7 hari setelah terinfeksi.
Gejalanya berawal sebagai rasa tidak enak pada uretra, yang beberapa jam kemudian diikuti oleh nyeri ketika berkemih dan keluarnya nanah dari penis.
Penderita sering berkemih dan merasakan desakan untuk berkemih, yang semakin memburuk ketika penyakit ini menyebar ke uretra bagian atas. Lubang penis tampak merah dan membengkak.
Pada wanita, gejala awal bisa timbul dalam waktu 7-21 hari setelah terinfeksi.
Penderita wanita seringkali tidak menunjukkan gejala selama beberapa minggu atau bulan, dan diketahui menderita penyakit ini hanya setelah mitra seksualnya tertular.
Jika timbul gejala, biasanya bersifat ringan. Tetapi beberapa penderita menunjukkan gejala yang berat, seperti desakan untuk berkemih, nyeri ketika berkemih, keluarnya cairan dari vagina dan demam.

      Infeksi bisa menyerang leher rahim, rahim, saluran telur, indung telur, uretra dan rektum; menyebabkan nyeri pinggul yang dalam atau nyeri ketika melakukan hubungan seksual.
Nanah yang keluar bisa berasal dari leher rahim, uretra atau kelenjar di sekitar lubang vagina.
Wanita dan pria homoseksual yang melakukan hubungan seksual melalui anus (lubang dubur) bisa menderita gonore pada rektumnya.

      Penderita merasakan tidak nyaman di sekitar anusnya dan dari rektumnya keluar cairan. Daerah di sekitar anus tampak merah dan kasar, tinjanya terbungkus oleh lendir dan nanah.
Pada pemeriksaan dengan anaskop akan tampak lendir dan cairan di dinding rektum penderita.
Melakukan hubungan seksual melalui mulut (oral sex) dengan seorang penderita gonore bias menyebabakn gonore pada tenggorokan (faringitis gonokokal).
Biasanya infeksi ini tidak menimbulkan gejala, tetapi kadang menyebabkan nyeri tenggorokan dan gangguan menelan.

    Jika cairan yang terinfeksi mengenai mata maka bisa terjadi infeksi mata luar (konjungtivitis gonore).
Bayi baru lahir bisa terinfeksi oleh gonore dari ibunya selama proses persalinan, sehingga terjadi pembengkakan pada kedua kelopak matanya dan dari matanya keluar nanah.
Pada dewasa, bisa terjadi gejala yang sama, tetapi seringkali hanya 1 mata yang terkena.
Jika infeksi ini tidak diobati bisa terjadi kebutaan.

PROSES TERJADINYA GONORHEA
     Gonokokus menempel pada sel epitel melalui vili yang ada di permukaan bakteri,kemudian difagositosis, berkembangbiak dan menginduksi reaksi peradangan leukositer.
Pada umumnya penularannya melalui hubungan kelamin yaitu secara genito-genital,orogenital (oral sex dengan penderita gonore biasanya akan menyebabkan faringitis gonokokal) dan anogenital.  tetapi disamping itu dapat juga terjadi manual melalui alat – alat , pakaian , handuk , thermometer dan sebagainnya. Transmisi Neisseria gonorrhoeae dari tempat duduk toilet di temukan pada bulan agustus 2003 pada anak wanita berusia 8 tahun.
Ibu hamil yang terinfeksigonore dapat menularkan ke bayinya selama proses persalinan.

      Conjungtivitis gonore merupakan penyebab utama kebutaan pada bayi yang baru lahir,jadi jika di ketahui ada  resiko penularan gonore maka dapat diberikan silver nitrat atau medikasi lain pada mata bayi scepatnya setelah dilahirkan. Karena adanya resiko penularan secara vertikal maka sebaiknya ibu hamil dilakukan pemeriksaan untuk gonre selama hamil.

      Meskipun telah banyak peningkatan dalam pengetahuan tentang patogenesis dari mikroorganisme, mekanisme molekular yang tepat tentang invasi gonokokkus ke dalam sel host tetap belum diketahui. Ada beberapa faktor virulen yang terlibat dalam mekanisme perlekatan, inflamasi dan invasi mukosa. Pili memainkan peranan penting dalam patogenesis gonore. Pili meningkatkan adhesi ke sel host, yang mungkin merupakan alasan mengapa gonokokkus yang tidak memiliki pili kurang mampu menginfeksi manusia. Antibodi antipili memblok adhesi epithelial dan meningkatkan kemampuan dari sel fagosit. Juga diketahui bahwa ekspresi reseptor transferin mempunyai peranan penting dan ekspresi full-length lipo-oligosaccharide (LOS) tampaknya perlu untuk infeksi maksimal.
Daerah yang paling mudah terinfeksi ialah daerah epitel kolumnar dari uretra dan endoserviks, kelenjar dan duktus parauretra pada pria dan wanita, kelenjar Bartolini, konjungtiva mata dan rectum. Infeksi primer yang terjadi pada wanita yang belum pubertas terjadi di daerah epitel skuamosa dari vagina

3.SILFILIS
       Sifilis adalah infeksi menular seksual yang disebabkan oleh bakteri spiroset Treponema pallidum sub-spesies pallidum. Rute utama penularannya melalui kontak seksual; infeksi ini juga dapat ditularkan dari ibu ke janin selama kehamilan atau saat kelahiran, yang menyebabkan terjadinya sifilis kongenital. Penyakit lain yang diderita manusia yang disebabkan oleh Treponema pallidum termasuk yaws (subspesies pertenue), pinta(sub-spesies carateum), dan bejel (sub-spesies endemicum).

      Tanda dan gejala sifilis bervariasi bergantung pada fase mana penyakit tersebut muncul (primer, sekunder, laten, dan tersier). Fase primer secara umum ditandai dengan munculnya chancre tunggal (ulserasi keras, tidak menimbulkan rasa sakit, tidak gatal di kulit), sifilis sekunder ditandai dengan ruam yang menyebar yang seringkali muncul di telapak tangan dan tumit kaki, sifilis laten biasanya tidak memiliki atau hanya menunjukkan sedikit gejala, dan sifilis tersier dengan gejala gumma, neurologis, atau jantung. Namun, penyakit ini telah dikenal sebagai "peniru ulung" karena kemunculannya ditandai dengan gejala yang tidak sama. Diagnosis biasanya dilakukan melalui tes darah; namun, bakteri juga dapat dilihat melalui mikroskop. Sifilis dapat diobati secara efektif dengan antibiotik, khususnya dengan suntikan penisilin G (yang disuntikkan untuk neurosifilis), ataupun ceftriakson, dan bagi pasien yang memiliki alergi berat terhadap penisilin, doksisiklin atau azitromisin dapat diberikan secara oral atau diminum.

      Sifilis diyakini telah menginfeksi 12 juta orang di seluruh dunia pada tahun 1999, dengan lebih dari 90% kasus terjadi di negara berkembang. Setelah jumlah kasus menurun secara dramatis sejak ketersediaan penicilin di seluruh dunia pada 1940an, angka infeksi kembali meningkat sejak pergantian milenium di banyak negara, terkadang muncul bersamaan dengan human immunodeficiency virus (HIV). Angka ini disebabkan sebagian oleh praktik seks yang tidak aman di antara laki-laki yang berhubungan seksual dengan laki-laki, seks bebas dan angka prostitusi tinggi, serta penurunan penggunaan proteksi pelindung.[1][2][3]

Tanda dan gejala
      Sifilis dapat muncul pada satu di antara empat fase yang berbeda; primer, sekunder, laten, dan tersier, dan bisa juga terjadi secara congenital. Fase ini disebut sebagai "peniru yang hebat" oleh Sir William Osler dikarenakan kemunculannya yang bervariasi.
Primer

     Chancre primer pada sifilis di tangan.
Sifilis primer umumnya diperoleh dari kontak seksual secara langsung dengan orang yang terinfeksi ke orang lain. Sekitar 3 sampai 90 hari setelah awal kedapatan (rata-rata 21 hari) luka di kulit dinamakan chancre, tampak pada saat kontak. Lesi ini biasanya (40 % dari waktu) tunggal, kokoh, tanpa rasa sakit, pemborokan kulit tanpa rasa gatal dengan dasar yang bersih serta berbatasan tajam antara ukuran 0,3 dan 3,0 cm. Walau bagaimanapun luka bisa dikeluarkan hampir dalam bentuk apapun.

     Pada bentuk yang umum, luka baerkembang dari macule ke papule dan akhirnya ke erosion atau ulcer. Kadang-kadang, lesi ganda mungkin muncul (~40%). Lesi ganda lebih umum ketika koinfeksi dengan HIV. Lesi mungkin nyeri atau perih (30%), dan bisa terjadi di luar kelamin (2–7%). Letak paling umum pada wanita adalah di cervix (44%), penis laki-laki heteroseksual (99%), dan anal serta rektal umumnya secara relatif (laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki) (34%). Pelebaran nodus limfa;(80%) sering kali terjadi di sekitar daerah infeksi, terjadi selama 10 hari setelah pembentukan tukak. Lesi dapat bertahan selama tiga hingga enam minggu tanpa pengobatan.

Sekunder
     Sifilis sekunder pada umumnya ditandai dengan munculnya ruam pada telapak tangan.
Papules kemerah-merahan dan banyaknya nodul di badan menandai terjadinya sifilis sekunder.
Sifilis sekunder seringnya terjadi empat sampai sepuluh minggu setelah infeksi primer. Sementara penyakit sekunder dapat dikenal dalam berbagai cara secara nyata, gejala-gejala paling umum berkaitan dengan kulit, selaput lendir, dan nodus limfa. Di sana mungkin terdapat kesamaan, kemerah-merahan-pink, ruam yang tidak gatal pada batang dan ekstrim, termasuk pada telapak tangan dan soles. Ruam bisa menjadi makulopapular atau pustular. Itu bisa berbentuk datar, lebar, keputih-putihan, lesi mirip kutil dikenal sebagai kondiloma latum pada selaput lendir.

      Semua dari endapan bakteri lesi terinfeksi. Gejala lain termasuk demam, sakit tenggorokan, malaise, berat badan turun, rambut rontok, dan sakit kepala. Jenis penyakit lainnya yang jarang terjadi termasuk hepatitis, ginjal penyakit, radang sendi, periostitis , optik neuritis, uveitis, dan interstitial keratitis. Gejala akut biasanya diatasi setelah tiga hingga enam minggu; namun sekitar 25% orang bisa kambuh gejala sekunder. Banyak orang yang mengalami sifilis sekunder (40-85% dari wanita, 20-65% dari laki-laki) tidak melaporkan mengalami chancre dari sifilis primer sebelumnya.

Laten
      Sifilis laten didefinisikan seperti mengalami bukti serologis dari infeksi tanpa gejala-gejala dari penyakit. Penyakit ini dijelaskan lebih lanjut sebagai lebih awal (kurang dari 1 tahun setelah sifilis sekunder) atau akhir (lebih dari 1 tahun setelah sifilis sekunder) di Amerika serikat. Amerika serikat memanfaakkan memotong dari dua tahun dini dan akhir sifilis laten. Awal sifilis laten bisa mempunyai gejala- gejala kambuh. Akhir sifilis laten adalah asimptomatik, dan tidak menular seperti awal sifilis laten.

Tersier
      Pasien dengan sifilis tersier. Kasus di Musée de l'Homme, Paris.
Sifilis tersier bisa terjadi kira-kira 3 hingga 15 tahun setelah infeksi awal, dan bisa dibagi kedalam tiga bentuk berbeda; sifilis gummatous (15%), akhir neurosifilis (6.5%),dan kardiovaskular sifilis (10%). Tanpa pengobatan, ketiga dari orang yang terinfeksi berkembang ke penyakit tersier. Orang dengan sifilis tersier adalah bukan penular.

     Sifilis gummatous atau sifilis akhir benign biasanya terjadi 1 hingga 46 tahun setelah infeksi awal, dengan rata-rata 15 tahun. Fase ini ditandai oleh pembentukan gumma kronik, yang lembut,mirip peradangan bola tumor yang bisa bermacam-macam dan sangat signifikan bentuknya gumma umumnya mempengaruhi kulit, tulang, dan liver, tetapi bisa terjadi dimanapun.

     Neurosifilis merujuk pada infeksi yang melibatkan sistem saraf pusat yang bisa terjadi dini, menjadi tak bergajala atau dalam bentuk dari meningitis sifilistik yang berhubungan dengan keseimbangan yang lemah dan nyeri kilat pada ekstrimitas lebih rendah. Akhir neurosifilis umumnya terjadi 4 hingga 25 tahun setelah infeksi awal. Siflis meningovaskular umumnya muncul dengan apati dan sawan, serta telah umum dengan demensia dan dorsalis. Juga di sana mungkin terdapat pupil Argyll Robertson, tempat pupil kecil bilateral menyempit ketika orang fokus pada objek dekat, tapi tidak menyempit ketika terkena cahaya terang. Sifilis kardiovaskular biasanya terjadi 10-30 tahun setelah infeksi awal. Komplikasi yang paling umum adalah syphilitic aortitis, yang dapat mengakibatkan pembentukan aneurisme.

Kongenital
      Sifilis kogenital bawaan sejak lahir dapat terjadi selama kehamilan atau selama kelahiran. Dua dari tiga bayi sifilis lahir tanpa gejala. Gejala umum yang kemudian berkembang dari kehidupan beberapa tahun pertama meliputi: hepatosplenomegali (70%), ruam (70%), demam (40%), neurosyphilis (20%), dan pneumonitis (20%). Jika terobati sifilis kongenital tahap akhir dapat terjadi di 40% meliputi: hidung; pelana kelainan bentuk, tanda Higoumenakis, saber shin, atau persendian Clutton diantara lainnya.

Penularan
       Sifilis terutama ditularkan melalui kontak seksual atau selama kehamilan dari ibu ke janinnya; spiroseta mampu menembus membran mokusa utuh atau ganguan kulit.[6][8] Oleh karena itu dapat ditularkan melalui mencium area di dekat lesi, serta seks oral, vaginal, dan anal.[6] Sekitar 30 sampai 60% dari mereka yang terkena sifilis primer atau sekunder akan terkena penyakit tersebut.[9] Contoh penularannya, seseorang yang disuntik dengan hanya 57 organisme mempunyai peluang 50% terinfeksi.[4]
   
      Sebagian besar (60%) dari kasus baru di United States terjadi pada laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki. Penyakit tersebut dapat ditularkan lewat produk darah. Namun, produk darah telah diuji di banyak negara dan risiko penularan tersebut menjadi rendah. Risiko dari penularan karena berbagi jarum suntik tidaklah banyak.[6] Sifilis tidak dapat ditularkan melalui dudukan toilet, aktifitas sehari-hari, bak panas, atau berbagi alat makan serta pakaian.[10]

     Penampilan awal sifilis sulit didiagnosisis secara klinis.[4] Penegakkan diagnosisnya melalui tes darah atau pemeriksaan visual secara langsung menggunakan mikroskop. Pemeriksaan darah adalah cara yang umum digunakan, karena lebih mudah dilakukan.[6] Tes diagnostik, bagaimanapun juga, tidak mampu membedakan antara tahap-tahap penyakit.[11]

Tes darah
       Tes darah dibagi menjadi nontreponemal dan tes treponemal.[4] Tes Nontreponemal digunakan mulanya, dan mencakup riset laboratorium penyakit kelamin (VDRL) dan tes rapid plasma reagin. Bagaimanapun, tes-tes tersebut hanya sesekali false positives, konfirmasi diperlukan melalui tes treponemal, seperti partikel aglutinasi treponemal palidum (TPHA) atau fluorescent treponemal antibody absorption test (FTA-Abs).[6] False positives pada tes nontreponemal dapat terjadi bersamaan dengan beberapa infeksi sepertivarisela dan campak, serta dengan limfoma, tuberkulosis, malaria, endokarditis, penyakit jaringan ikat, dan kehamilan.[12] Tes antibodi treponemal biasanya menjadi positif dua sampai lima minggu setelah infeksi awal.[4] Neurosifilis didiagnosis dengan menemukan tingginya angka leukosit (terutama limfosit) dan tingkat protein yang tinggi pada cairan tulang belakang kondisi dari infeksi sifilis yang dikenal.[6][12]

Pengujian langsung
       Mikroskop medan gelap cairan serosa dari tukak dapat digunakan untuk membuat diagnosis langsung. Namun, rumah sakit tidak selalu mempunyai perlengkapan atau anggota staf yang berpengalaman, sementara pengujian harus dilakukan dalam waktu 10 menit dalam perolehan sampel. Sensitivitastelah dilaporkan hampir 80%, sensitivitas dan spesifitas hanya dapat digunakan untuk konfirmasi diagnosis tapi bukan satu-satunya aturan. Dua tes lain dapat dilakukan pada sampel dari cangker: pengujian antibodi neon langsung dan tesamplifikasi asam nukleat. Tes neon langsung menggunakan tagantibodi dengan fluorescein, yang disispkan untuk protein sifilis spesifik, sedangkan amplifikasi asam nukleus menggunakan teknik, seperti reaksi berantai polimerase, untuk mendeteksi adanya gen sifilis spesifik. Tes-tes tersebut tidak seperti waktu-sensitif, sebagaimana tes-tes tersebut tidak memerlukan bakteri hidup untuk membuat diagnosis.[4]

Pencegahan
       Tidak ada vaksin yang efektif untuk pencegahan.[8] Berpantang dari kontak fisik intim dengan orang yang terinfeksi secara efektif mengurangi penularan sifilis, seperti penggunaan yang tepat dari kondom lateks. Namun, penggunaan kondom, tidak sepenuhnya menghilangkan risiko.[13][10] Oleh karena itu, Centers for Disease Control and Prevention merekomendasikan hubungan jangka panjang dengan satu pasangan yang tidak terinfeksi dan menghindari zat seperti alkohol dan zat terlarang lainnya yang dapat meningkatkan risiko perilaku seksual.[10]

       Sifilis bawaan pada bayi dapat dicegah dengan penapisan ibu selama awal kehamilan dan mengobati mereka yang terinfeksi.[14] United States Preventive Services Task Force (USPSTF) sangat merekomendasikan penapisan universal pada semua wanita hamil,[15] sedangkan Organisasi Kesehatan Dunia menyarankan agar semua wanita dites pada kunjungan pertama antenatal dan sekali lagi pada trimester ketiga.[16] Jika mereka positif, mereka menganjurkan agar pasangan mereka juga dirawat.[16]Meskipun demikian, sifilis bawaan masih banyak terjadi di negara berkembang, karena banyak wanita yang sama sekali belum menerima perawatan antenatal, dan bahkan perawatan lain sebelum melahirkan yang diterima tidak termasuk penapisan,[14] dan ini terkadang masih terjadi di negara maju, karena mereka yang kemungkinan besar tertular sifilis (melalui penggunaan obat-obatan terlarang, dll.) adalah yang paling sedikit menerima perawatan selama kehamilan.[14] Beberapa langkah untuk meningkatkan akses ke tes tampaknya efektif untuk mengurangi tingkat sifilis bawaan di negara berpendapatan rendah sampai menengah.[16]

      Sifilis adalah penyakit yang harus dilaporkan di beberapa negara, termasuk di Kanada[17] Uni Eropa ,[18] dan Amerika Serikat.[19] Ini berarti penyedia layanan kesehatan diwajibkan untuk memberitahukan kepada otoritas Kesehatan Masyarakat, yang idealnya nanti akan memberikan pemberitahuan pasangan kepada pasangan pasien. [20] Dokter juga dapat mendorong pasien untuk mengirim pasangan pasien untuk mencari perawatan kesehatan.[21] CDC merekomendasikan laki-laki yang aktif secara seksual yang melakukan hubungan seks dengan laki-laki dites sekurang-kurangnya sekali dalam setahun.[22]
http://id.wikipedia.org/wiki/Sifilis

4.Herpes Genitalis
       Herpes genitalis disebabkan oleh virus herpes simpleks (HSV). Kontak seksual merupakan cara utama yang menyebarkan virus. Setelah infeksi awal, virus tertidur dalamt ubuh dan dapat aktif kembali beberapa kali dalam setahun.Tidak ada obat untuk herpes genitalis, tapi obat-obatan dapat mengurangi gejala dan mengurangi risiko menulari orang lain. Kondom juga dapat membantu mencegah penularanvirus.

.jenis infeksi virus herpes simpleks dapat menyebabkan herpes genitalis:

      HSV-1. Ini adalah jenis yang biasanya menyebabkan luka atau vesikel meradang disekitar mulut, meskipun dapat menyebar ke area genital selama seks oral.
HSV-2. Ini adalah jenis yang biasanya menyebabkan herpes genitalis. Virus menyebarmelalui kontak seksual dan kulit-ke-kulit. HSV-2 adalah sangat umum dan sangatmenular, apakah ada atau tidak memiliki luka terbuka.Karena virus mati dengan cepat di luar tubuh, hampir tidak mungkin untuk mendapatkan infeksi melalui kontak dengan toilet, handuk atau benda lain yang digunakanoleh orang yang terinfeksi.


      Herpes genitalis adalah infeksi menular seksual di daerah genital yang disebabkanvirus herpes simpleks (HSV). Gejala-gejalanya antara lain nyeri, gatal, dan luka di daerahgenital, tetapi banyak yang tidak menunjukkan gejala. Infeksi ini menyebar di seluruh dunia,dapat dialami baik laki-laki maupun perempuan, lebih sering pada pasien yang aktif secaraseksual, kematian dipengaruhi infeksi perinatal, infeksi SSP, dan infeksi pada orang
immunocompromised 

     .Penyebabnya bisa disebabkan baik oleh HSV-1 maupun HSV-2. HSV-1 menyerang orofasialdan HSV-2 menyerang genital, tetapi bisa rancu karena adanya hubungan seks oral.
Faktorresiko herpes genitalis adalah orang dengan banyak pasangan seksual. Perjalanan penyakitdiakibatkan oleh neurovirulensi, latensi, dan kemampuan reaktifasi dari HSV. Herpesgenitalis dibagi menjadi 3 fase yaitu, infeksi primer, fase laten, dan infeksi rekuren. Infeksiprimer berlangsung lebih lama dan lebih berat, kira-kira 3 minggu dan sering disertai gejala sistemik, : (demam, malaise, dan anoreksia, pembengkakan kelenjar getah bening regional).Kelainan klinis berupa vesikel yang berkelompok di atas kulit yang sembab dan eritematosa,berisi cairan jernih kemudian seropurulen, menjadi krusta dan mengalami ulserasi yangdangkal, biasanya sembuh tanpa sikatriks, dan juga tidak terdapat indurasi, serta dapat timbulinfeksi sekunder. Fase laten tidak ditemukan gejala klinis, tetapi HSV dalam keadaan tidak aktif pada ganglion dorsalis. Infeksi rekuren lebih ringan daripada infeksi primer selama 7-10hari, ada faktor pemicu, dapat di tempat yang sama atau tempat lain. Pemeriksaanpenunjangnya antara lain dengan Tzanck test, mikroskop elektron, tes antibodi, kultur virus,dan tes DNA HSV. Pada daerah genitalia harus dibedakan dengan ulkus durum, ulkus mole,dan ulkus mikstum, maupun ulkus yang mendahului penyakit limfogranuloma venereum.
  
     Herpes genitalis tidak ada pengobatan yang mencegah rekurensi secara tuntas.Penatalaksanaan dengan antivirus hanya mempersingkat masa penyakit dan masa untuk rekurens lebih panjang. Apabila lesi basah dapat dikompres terlebih dahulu baru diberikanantivirus topikal untuk lesi dini. Pencegahan dengan membatasi pasangan seksual, memakaikondom, dan antivirus untuk mencegah infeksi rekuren. Komplikasi yang dapat terjadi antaralain infeksi menular seksual lainnya, infeksi perinatal, masalah kandung kemih, meningitisatau infeksi SSP lainnya, dan infeksi rektum. Pengobatan secara dini dan tepat akan memberiprognosis yang lebih baik, yakni masa penyakit berlangsung lebih singkat dan rekurensi lebih jarang


5.CHANCROID
      Chancroid adalah penyakit infeksi pada alat kelamin akut, setempat disebabkan oleh
 streptobacillus ducrey
( Haemophilus ducreyi) dengan gejala klinis yang khas berupa ulkusnekrotik yang nyeri pada tempaat inokulasi, dan sering disertai pernanahan kelenjar getah beningregional. Biasanya disebut soft chancre, ulkus mole, soft sore.

     Masa inkubasi berkisar antara 1-14 hari, pada umumnya kurang dari 7 hari atau 4-7 hari..Lesi kebanyakan multiple(Gbr.2.3), jarang soliter, biasanya pada daerah genital, jarang padadaerah ekstragenital. Mula-mula kelainan kulit berupa papul, kemudian menjadi vesiko-pustul pada tempat inokulasi, cepat pecah menjadi ulkus.

Gejala Ulkus Mole (chancroid)

1. Djuanda,Adhi.2009.
 Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin.Jakarta
:Balai penerbit FK UI
 
11
Ulkus; kecil, lunak pada perabaan, tidak terdapat indurasi, berbentuk cawan, pinggir tidak rata, sering bergaung dan di kelilingi halo yang eritematosa dan mengalami ulserasidalam 24 jam. Ulkus sering tertutup jaringan nekrotik, dasar ulkus berupa jaringan granulasiyang mudah berdarah,
ditutupi oleh eksudat abu-abu kuning berserat yang pirulen danlimpodenopati,
dan pada perabaan terasa nyeri, biasanya lebih nyeri pada laki-laki daripada perempuan.

Inguinal Limpodenopati
Tempat predileksi pada laki-laki ialah permukaan mukosa preputium, sulkus koronarius,frenulum penis, dan batang penis. Dapat juga timbul lesi di dalam uretra, scrotum, perineum,atauanus. Pada wanita ialah labia, klitoris, Fourchette, vestivuli, anus, dan serviks.
Lesi Chancroid Kecil Pada Labia Majora


6.KLAMIDIA
       Penyakit Klamidia tergolong dalam infeksi menular seksual(IMS) pada manusia yang disebabkan oleh bakteri Chlamydiatrachomatis.Istilah infeksi Klamidia dapat juga merujuk kepada infeksiyang disebabkan oleh setiap jenis bakteri dari keluargaChlamydiaceae. C. trachomatis hanya ditemukan padamanusia. dapat merusak alat reproduksi manusia dan penyakit mata

     Penyebaran : Klamidia dapat ditularkan melaluihubungan seksual secara vaginal, anal, atau oral,dan dan dapat mengakibatkan bayi tertular dariibunya selama masa persalinan.


Gejala-gejala klamidia
      Chlamydia dikenal sebagai ³Silent Epidemi´ karena padawanita, hal itu mungkin tidak menimbulkan gejala pada75% kasus, dan dapat tidak terdeteksi selama berbulan-bulan atau tahunan sebelum ditemukan. Gejala yangmungkin terjadi termasuk: perdarahan yang tidak biasaatau cairan vagina, rasa sakit di perut, nyeri saathubungan seksual (dispareunia), demam, nyeri buang air kecil dan dorongan untuk buang air kecil lebih sering daribiasanya.
Pada pria, Chlamydia menunjukkan gejala infeksi uretritis(radang uretra) di sekitar 50% dari kasus. Gejala yangmungkin terjadi meliputi: nyeri atau rasa panas ketikabuang air kecil, kotoran yang tidak biasa dari penis,testikel bengkak atau lembut, dan demam.


Patoligik klinik :
      Manifestasi klinis dari uretritis kadang sulit dibedakandengan gonore dan termasuk adanya dischargemukopurulen dalam jumlah sedikit atau sedang, gatalpada uretra dan rasa panas ketika buang air kecil. Infeksitanpa gejala bisa ditemukan pada 1 ±25 % pria denganaktivitas seksual aktif. Komplikasi dan gejala sisamungkin terjadi dari infeksi uretra pada pria berupaepididimitis, infertilitas dan sindroma Reiter. Pada priahomoseksual, hubungan seks anorektal bisamenyebabkan proktitis klamidia


7.KONDILOMA AKUMINATA

DEFINISI:
      Kutil Genitalis (Kondiloma Akuminata) merupakan kutil di dalam atau di sekeliling vagina, penis atau dubur, yang ditularkan melalui hubungan seksual. Kondiloma akuminatum ialahvegetasi oleh human papiloma virus tipe tertentu, bertangkai, dan permukaannya berjonjot.Beberapa tipe HPV tertentu mempunyai potensi onkogenik yang tinggi, yaitu tipe 16 dan 18.tipe ini merupakan jenis virus yang paling sering dijumpai pada kanker serviks. Sedangkan tipe6 dan 11 lebih sering dijumpai pada kondiloma akuminatum dan neoplasia intraepitelial serviksderajat ringan.Kutil genitalis sering ditemukan dan menyebabkan kecemasan karena: - tidak enak dilihat, - bisa terinfeksi bakteri - bisa merupakan petunjuk adanya gangguan sistem kekebalan.

 PENYEBAB
      Virus papilloma.Pada wanita, virus papiloma tipe 16 dan 18, yang menyerang leher rahim tetapi tidak menyebabkan kutil pada alat kelamin luar dan bisa menyebabkan kanker leher rahim. Virus tipeini dan virus papiloma lainnya bisa menyebabkan tumor intra-epitel pada leher rahim(ditunjukkan dengan hasil Pap-smear yang abnormal) atau kanker pada vagina, vulva, dubur, penis,mulut, tenggorokan atau kerongkongan.GEJALA KLINISKutil genitalis paling sering tumbuh di permukaan tubuh yang hangat dan lembab. Pada pria,area yang sering terkena adalah ujung dan batang penis dan dibawah kulit depannya (jika tidak disunat). Pada wanita, kutil timbul di vulva, dinding vagina, leher rahim (serviks) dan kulit disekeliling vagina. Kutil genitalis juga bisa terjadi di daerah sekeliling anus dan rektum,terutama pada pria homoseksual dan wanita yang melakukan hubungan seksual melalui dubur.Kutil biasanya muncul dalam waktu 1-6 bulan setelah terinfeksi, dimulai sebagai pembengkakan kecil yang lembut, lembab, berwarna merah atau pink. Mereka tumbuh dengancepat dan bisa memiliki tangkai. Pada suatu daerah seringkali tumbuh beberapa kutil dan permukaannya yang kasar memberikan gambaran seperti bunga kol (blumkol).Pada wanita hamil, pada gangguan sistem kekebalan (penderita AIDS atau pengobatan denganobat yang menekan sistem kekebalan) dan pada orang yang kulitnya meradang, pertumbuhankutil ini sangat cepat.

      Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik.Kutil yang menetap bisa diangkat melalui pembedahan dan diperiksa dibawah mikroskop untuk meyakinkan bahwa itu bukan merupakan suatu keganasan. Wanita yang memiliki kutil di leher rahimnya, harus menjalani pemeriksaan Pap-smear secara rutin.PENGOBATANKutil pada alat kelamin luar bisa diangkat melalui laser, krioterapi (pembekuan) atau pembedahan dengan bius lokal.Pengobatan kimiawi, seperti podofilum resin atau racun yang dimurnikan atau asamtrikloroasetat, bisa dioleskan langsung pada kutil. Tetapi pengobatan ini memerlukan waktu beberapa minggu sampai beberapa bulan, bisa melukai kulit di sekelilingnya dan sering gagal.Kutil di uretra bisa diobati dengan obat anti kanker seperti tiotepa atau florourasil. Pilihanlainnya adalah pengangkatan kutil dari uretra melalui pembedahan endoskopik.Kutil genitalis sering kambuh dan memerlukan pengobatan ulang. Pada pria yang belumdisunat, kekambuhan bisa dicegah dengan menjalani penyunatan.
.Pada wanita, virus papiloma tipe 16 dan 18, yang menyerang leher rahim tetapitidak menyebabkan kutil pada alat kelamin luar dan bisa menyebabkan kankerleher rahim. Virus tipe ini dan virus papiloma lainnya bisa menyebabkan tumor intra-epitel pada leher rahim (ditunjukkan dengan hasil Pap-smear yang abnormal)atau kanker pada vagina, vulva, dubur, penis,mulut, tenggorokan ataukerongkongan.GEJALAKutil genitalis paling sering tumbuh di permukaan tubuh yang hangat dan lembab.

       Pada pria, area yang sering terkena adalah ujung dan batang penis dan dibawahkulit depannya (jika tidak disunat). Pada wanita, kutil timbul di vulva, dindingvagina, leher rahim (serviks) dan kulit di sekeliling vagina. Kutil genitalis juga bisaterjadi di daerah sekeliling anus dan rektum, terutama pada pria homoseksual danwanita yang melakukan hubungan seksual melalui dubur.Kutil biasanya muncul dalam waktu 1-6 bulan setelah terinfeksi, dimulai sebagaipembengkakan kecil yang lembut, lembab, berwarna merah atau pink. Merekatumbuh dengan cepat dan bisa memiliki tangkai.Pada suatu daerah seringkali tumbuh beberapa kutil dan permukaannya yangkasar memberikan gambaran seperti bunga kol (blumkol).Pada wanita hamil, pada gangguan sistem kekebalan (penderita AIDS ataupengobatan dengan obat yang menekan sistem kekebalan) dan pada orang yangkulitnya meradang, pertumbuhan kutil ini sangat cepat.DIAGNOSADiagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik.Kutil yang menetap bisa diangkat melalui pembedahan dan diperiksa dibawahmikroskop untuk meyakinkan bahwa itu bukan merupakan suatu keganasan.Wanita yang memiliki kutil di leher rahimnya, harus menjalani pemeriksaan Pap-smear secara rutin.

PENGOBATAN
      Kutil pada alat kelamin luar bisa diangkat melalui laser,krioterapi
(pembekuan)atau pembedahan dengan bius lokal.Pengobatan kimiawi, seperti podofilum resin atau racun yang dimurnikan atauasam trikloroasetat, bisa dioleskan langsung pada kutil. Tetapi pengobatan inimemerlukan waktu beberapa minggu sampai beberapa bulan, bisa melukai kulit disekelilingnya dan sering gagal.Kutil di uretra bisa diobati dengan obat anti kanker seperti tiotepa atau florourasil.Pilihan lainnya adalah pengangkatan kutil dari uretra melalui pembedahanendoskopik.Kutil genitalis sering kambuh dan memerlukan pengobatan ulang. Pada pria yangbelum disunat, kekambuhan bisa dicegah dengan menjalani penyunatan.



       

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon