Wednesday, May 13, 2015

ASUHAN KEBIDANAN PADA NEONATUS BAYI DAN BALITA DENGAN PENYULIT DAN KOMPLIKASI


BAB I
PENDAHULUAN

A.Latar belakang
Asuhan kebidanan adalah perawatan yang di berikan oleh bidan. Jadi asuhan kebidanan pada neonatus, bayi, dan balita adalah perawatan yang di berikan oleh bidan pada bayi barulahir, bayi, dan balita dengan masalah adalah suatu penyimpangan yang dapat menyebabkan gangguan pada neonatus, bayi dan balita apabila tidak di berikan asuhan yang tepat dan benar. Ada beberapa masalah yang lazim terjadi di antarnya adalah adanya diare, diaper rush, hemangioma, seborhea, bisul, batuk pilek, obstipasi, dan meninggal mendadak.
B.Rumusan masalah
Masalah yang dibahas dalam makalah ini adalah bagaimanakah Asuhan Pada Neonatus, Bayi Balita Dan Anak Prasekolah Dengan Masalah Diaper Rash, Seborhea, Bisulan Dan Milliarisis?

C.Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan makalah ini adalah untuk mendeskripsikan Asuhan Pada Neonatus, Bayi Balita Dan Anak Prasekolah Dengan Masalah Diaper Rash, Seborhea, Bisulan Dan Milliarisis.









D. Manfaat
Manfaat yang diharapkan dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.
1.      Penulis dapat memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang Asuhan Pada Neonatus, Bayi Balita Dan Anak Prasekolah Dengan Masalah Diare, Diaper Rash, Hemangioma, Seborhea, Bisulan, Batuk pilek, Obstipasi, dan Meninggal mendadak.


2.      Pembaca dapat memperoleh pengetahuan dan pemahaman Asuhan Pada Neonatus, Bayi Balita Dan Anak Prasekolah Dengan Masalah Diare, Diaper Rash, Hemangioma, Seborhea, Bisulan, Batuk pilek, Obstipasi, dan Meninggal mendadak.
 
















                                                            BAB II
                                                      PEMBAHASAN
A.    Diare
Diare adalah pengeluaran feses yang tidak normal dan cair. Bisa juga sebagai buang air besar yang tidak normal dan berbentuk cair dengan frekuensi lebih banyak dari biasanya. Bayi di katakan diare bila sudah lebih dari 3 kali buang air besar, sedangkan neonatus dikatan diare bila sudah lebih dari 4 kali buang air besar.
a.       Etiologi
Diare dapat di sebabkan karena beberapa faktor, seperti infeksi, malabsorbsi, makanan, dan psikologi.
1.      Infeksi
a)      Enternal, yaitu infeksi yang terjadi dalam saluran pencernaan dan merupakan penyebab utama terjadinya diare. Infeksi enternal meliputi:
·         Infeksi bakteri:i.
·          vibrio, E. Coli, salmonella, shigella campylobacter, yersinia, aeromonas, dan sebagainya;
·         Infeksi virus: enterovirus, seperti virus ECHO, coxsackie, poliomyelitis, adenovirus, rotavirus, dan sebagainya;
·         Infeksi parasit: cacing (Ascaris, Trichiuris, Oxyurisn dan Strongylodies),
Protozoa (Entamoeba histolytica, Giardia lamblia, dan Trichomonas hominis), serta jamur (Candida albicans)
b)      Parenteral, yaitu infeksi di bagian tubuh lain di luar alat pencernaan, misalnya otitis media akut (OMA), tonsilofaringitis, bronkopneumonia, ensefalitis, dan sebagainya.
2.      Malabsorbsi.
a)      Karbohidrat: disakarida (intoleransi laktosa, maltosa, dan sukrosa) serta monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa, dan galaktosa). Pada anak dan bayi yang paling berbahaya adalah intoleransi laktosa.
b)      Lemak.
c)      Protein.
3.      Makanan, misalnya makanan basi, beracun, dan alergi
4.      Psikologi, misalnya rasa takut atau cemas.
b.      Patogenesis
Mekanisme dasar yang dapat menyebabkan terjadinya diare adalah sbb.
1)      Gangguan osmotik
Akibat adanya makanan atau zat yang tidak dapat diserap oleh tubuh akan menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan akan merangsang usus untuk mengeluarkan isinya sehingga timbul diare.
2)      Gangguan sekresi.
Akibat rangsangan tertentu, misalnya toksin pada dinding usus yang akan menyebabkan peningkatan sekresi air dan elektrolit yang berlebihan ke dalam rongga usus, sehingga akan terjadi peningkatan isindari rongga usus yang akan merangsang pengeluaran isi dari rongga usus dan akhirnya timbullah diare.
3)      Gangguan motilitas usus
Hiperperistaltik akan menyebabkan berkurangnya kesempatan bagi usus untuk menyerap makanan yang masuk, sehingga akan timbul diare. Akan tetapi, apabila terjadi keadaan yang sebaliknya yaitu penurunan dari peristaltik usus maka akan dapat menyebabkan pertumbuhan bakteri yang berlebihan di dalam rongga usus sehingga akan menyebabkan diare juga.
c.       Patogenesis diare akut
1.      Masuknya jasad renik yang masih hidup ke dalam usus halus setelah berhasil melewati rintangan asam lambung.
2.      Jasad renik tersebut akan berkembang baik (multiplikasi) di dalam usus halus.
3.      Dari Jasad renik tersebut akan keluar toksin (toksin diaregenik)
4.      Toksin diare genik akan menyebabkan hipersekresi yang selanjutnya akan menimbulkan diare.
d.      Tanda dan Gejala
Berikut ini adalah tanda dan gejala pada anak yang mengalami diare.
·         Cengeng, rewel.
·         Gelisah.
·         Suhu meningkat.
·         Nafsu makan menurun.
·         Feses cair dan berlendir, kadang juga disertai dengan ada darahnya. Kelamaan, feses ini akan berwarna hijau dan asam.
·         Anus lecet.
·         Dehidrasi, bila menjadi dehidrasi berat akan terjadi penurunan volume dan tenana darah, nadi cepat dan kecil, peningkatan denyut jantung, penurunan kesadaran, dan di akhiri dengan syok.
·         Berat badan menurun.
·         Turgor kulit menurun.
·         Mata dan ubun ubun cekung.
·         Selaput lendir dan mulut serta kulit menjadi kering.
e.       Komplikasi
1.      Dehidrasi akibat kekurangan cairan dan elektrolit, yang di bagi menjadi:
      Dehidrasi ringan, apabila terjadi kehilangan cairan kurang dari 5% BB.
      Dehidresi sedang, apabila terjadi kehilangan cairan 5-6% BB.
      Dehidrasi berat, apabila terjadi kehilangan cairan lebih dari 10-15% BB.
2.      Renjatan hipovolemik akibat menurunnya volume darah dan apabila penurunan volume darah mencapai 15-25% BB maka akan menyebabkan penurunan tekanan darah.
3.      Hipokalemia dengan gejala yang muncul adalah meteorismus, hipotoni otot, kelemahan, bradikardia, dan perubahan pada pemeriksaan EKG.
4.      Hipoglikemia.
5.      Intoleransi laktosa sekunder sebagai akibat defisiensi enzim laktosa karena kerusakan vili mukosa usus halus.
6.      Kejang.
7.      Malnutrisi energi protein karena selain diare dan muntah, biasanya penderita mengalami kelaparan.
f.       Penatalaksanaan
Prinsip perawatan diare adalah sbb.
1.      Pemberian cairan (rehidrasi awal dan rumatan)
2.      Diatetik (pemberian makanan)
3.      Obat-obatan.
v  Jumlah cairan yang di berikan adalah 100 ml/kgBB/hari sebanyak 1 kali setiap 2 jam, jika diare tanpa dehidrasi. Sebanyak 50% cairan ini di berikan dalam 4 jam pertama dan sisanya adlibitum.
v  Sesuaikan dengan umur anak:
                                                                                  i.            Kurang dari 2 tahun diberikan ½ gelas;
                                                                                ii.            2-6 tahun di berikan 1 gelas;
                                                                              iii.            Lebih bari 6 tahun di berikan 400 cc (2 gelas).
v  Apabila dehidrasi ringan dan diarenya 4 kali sehari, maka di berikan cairan 25-100 ml/kgBB dalam sehari atau setiap jam 2 kali.
v  Oralit di berikan sebanyak kurang lebih 100 ml/kgBB setiap 4-6 jam pada kasus dehidrasi ringan sampai berat.
Beberapa cara untuk membuat cairan rumah tangga (cairan RT).
·         Larutan gula garam (LGG): 1 sendok teh gula pasir +1/2 sendok teh garam dapur halus +1 gelas air masak atau air hangat.
·         Air tajin (2 liter + 5 g garam)
      Cara tradisional.
3 liter air + 100 gr atau 6 sendok makan beras di masak selama 45-60 menit.
      Cara biasa.
2 liter air + 100 gr tepung beras + 5 gr garam dimasak hingga mendidih.
4.      Teruskan pemberian ASI karena bisa membantu meningkatkan daya tahan tubuh anak.








B.     Diaper Rash
Diaper rash adalah kemerahan pada kulit bayi akibat adanya kontak yang terus-menerus dengan lingkungan yang tidak baik.
1.      Etiologi
·         Tidak terjaganya kebersihan kulit dan pakaian bayi.
·         Jarangnya mengganti popok setelah bayi BAB atau BAK.
·         Terlalu panas atau lembabnya udara atau suhu lingkungan.
·         Tingginya frekuensi BAB (diare)
·         Adanya reaksi kontak terhadap karet, plastik, dan deterjen.
2.      Tanda dan gejala
v  Iritasi pada kulit yang kontak langsung dengan elergen, sehingga muncul eritema.
v  Erupsi pada daerah kontak yang menonjol, seperti bokong, alat genital, perut bawah, atau paha atas.
v  Pada keadaan yang lebih parah dapat terjadi papila eritematosa, vesikula, dan ulserasi.
3.      Penatalaksanaan
·         Daerah yang terkena ruam popok, tidak boleh terkena air dan harusdibiarkan terbuka dan tetap kering.
·         Gunakan kapas halus yang mengandung minyak untuk membersihkan kulit yang iritasi .
·         Segera bersihkan dan keringkan bayi setelah BAK atau BAB.
·         Atur posisi tidur anak agar tidak menekan kulit atau daerah yang iritasi.
·         Usahakan memberikan makanan tinggi kalori  tinggi protein (TKTP) dengan porsi cukup.
·         Perhatikan kebersihan kulit dan tubuh secara keseluruhan.
·         Jagalah kebersihan pakaian dan alat-alat untuk bayi.
·         Rendamlah pakaian atau celana yang terkena urin dalam air yang di campur acidum borium, setelah itu bersihkan tetapi jangan menggunakan sabun cuci, segera bilas dan keringkan.

C.     Hemangioma
Hemangioma adalah suatu tumor jaringan lunak atau tumor vaskular jinak akibat proliferasi (pertumbuhan yang berlebih) dari pembuluh darah yang tidak normal dan dapat terjadi pada setiap jaringan pembuluh darah. Hemangioma sering terjadi pada bayi baru lahir dan pada anak berusia 1 tahun (5-10%). Biasanya hemangioma sudah tampak sejak bayi dilahirkan(30%) atau muncul beberapa minggu setelah kelahiran (70%). Hemangioma muncul di setiap tempat pada permukaan tubuh seperti kepala, leher, muka, dada, atau kaki. Hemangioma merupakan tumor vaskular jinak terlazim pada bayi dan anak. Meskipun tidak menutup kemungkinan dapat terjadi pada orang tua, contohnya adlah cherry hemangioma atau angioma senilis yang biasanya jinak, kecil, red,-purple papule pada kulit orang tua.
a.       Pembagian
                                           I.            Nevus flammeus
Daerah kaviler yang tidak menonjol, berbatas tegas, ukurannya tidak bertambah, berwarna merah, ungu, dan akan hilang dengan sendirinya tanpa pengobatan.
                                        II.            Nevus vaskulosus
Kapiler yang baru terbentuk dan membesar pada kulit (lapisan dermis dan sebdermis)yang tumbuh beberapa bulan setelah lahir kemudian mengeruk dan mengilang dengan sendirinya.
b.      Penatalaksanaa
Berikan konseling kepada orang tua bahwa tanda lahir itu normal dan sering terjadi pada bayi baru lahir, sehingga orangtua tidak perlu khawatir dalam menghadapi kejadian ini.

D.    Sebhorrea
a.       Pengertian
Sebhorrea adalah radang berupa sisik yang berlemak dan eritema pada daerah yang memiliki banyak kelenjar sebaseanya, biasanya di daerah kepala.
b.      Etiologi
Penyebab sebhorrea masih belum di ketahui secara pasti, tetapi ada beberapa ahli yang menyatakan beberapa faktor penyebab sebhorrea yaitu sebagai berikut.
·         Faktor hereditas, yaitu bisa di sebabkan karena adanya faktor keturunan dari orang tua.
·         Intake makanan yang tinggi lemak dan kalori.
·         Asupan minuman beralkohol.
·         Adanya gangguan emosi .
c.       Penatalaksanan
Walaupun secara kausal masi belum di ketahui, tetapi penyembuhannya bisa di lakukan dengan obat-obat topikal, seperti sampo yag tidak berbusa (keramasilah kepala bayi sebanyak 2-3 kali perminggu) dan krim selenium sulfida/Hgpresipitatus albus 2%.
E.     Bisul
a.       Definisi bisul
Selulitis/ abses/ bisulan adalah infeksi pada kulit, dengan gejala kulit merah/ bengkak, disertai nyeri hebat yang terbentuk dalam kulit oleh peradangan terbatas dari korium pada jaringan subkutan manapun. Bengkak disertai nyeri tekan (bayi menangis bila disentuh ), serta bengkak disertai fluktuasi. Infeksi ini biasanya dijumpai pada hari ke-3 atau lebih.Furunkel (bisul) mengelilingi nekrotis sentral atau inti disebabkan oleh stapholococcus yang memasuki kulit melalui folikel rambut. S. aureus adalah penyebab infeksi piogenik kulit yang paling sering, ia dapat juga menyebabkan furunkel, karbunkel, osteomelitis, artritis septik, infeksi luka, abses, pneumonia, empiema, endokarditis, meningitis dan penyakit yang diperantarai toksin, termasuk keracunan makanan.Bisul merupakan nanah yang terkumpul dalam satu rongga yang sangat menyakitkan.   Kelompok bisul biasa dipanggi pekung (carbuncles) tetapi perubahan pada kulit seperti ini tidak biasa berlaku pada kanak-kanak.Secara medis, bisul adalah infeksi kuman pada folikel rambut dan kelenjar minyak kulit. Bisul merupakan salah satu penyakit kulit yang disebabkan oleh kuman. Penyakit ini sering dijumpai pada anak karena daya tahan kulitnya terhadap invasi kuman belum sesempurna orang dewasa. Kelainan berupa masa padat kemerahan berbentuk kerucut, ditengahnya terdapat gelembung bernanah. Kemudian melunak menjadi abses lalu pecah. Biasanya mengeras dan terdapat pada bokong, kuduk, belakang bagian leher, dibawah ketiak, badan dan tungkai, dan sekeliling pinggang, pangkal paha, atas kaki, punggung. Furunkel (boil/bisul) dapat terbentuk pada lebih dari satu tempat yang biasa disebut sebagai furunkulosis.
b.      Etiologi/ Penyebab
Furunkel dapat disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya adalah sebagai berikut :
1.  Iritasi pada kulit
2.  Kebersihan kulit yang kurang terjaga
3.  Daya tahan tubuh yang rendah
4.  Infeksi oleh staphylococcus aureus. Berbentuk bulat (coccus), diameter 0,5-1,5µm, susunan bergerombol seperti anggur, tidak mempunyai kapsul, nonmotil, katalase positif, pada pewarnaan gram tampak berwarna ungu.
5.  Bakteri lain atau jamur. Paling sering ditemukan didaerah tengkuk, axial, paha dan  bokong. Akan terasa sangat nyeri jika timbul didaerah sekitar hidung, telinga, atau jari-jari tangan.
c. penatalaksanaan
·         Memberikan sabun anti bakteri atau antibiotik topikal (salep atau krim) pada bisul.
·         Kompres bisul dengan air hangat untuk membantu mempercepat penyembuhan.
·         Beri tahu kpada orang tua bayi bahwa jangan perna memencet atau mencoba memecahkan bisul karenabisa memperburuk dan menyebarkan infeksi.

F.      Batuk Pilek
a.       Definisi
Batuk pilek pada balita adalah penyakit yang biasa terjadi,  Namun apabila bayi yang baru lahir sudah mengalami batuk pilek tentu akan membuat anda sebagai orangtua heran dan bingung bagaimana harus mengatasinya. Batuk Pilek pada Bayi yang baru lahir memang sangat mungkin terjadi.
b.      Etiologi
Penyebab Batuk pilek pada bayi adalah virus dari kelompok RNA (asam ribonukleat), Namun memang kadang ada bakteri yang ikut menginfeksi bayi.  Adapun gejala Batuk Pilek pada bayi adalah bayi anda batuk tanpa sebab yang jelas dan disertai hidung hidung mengeluarkan cairan bening bahkan kadang disertai badan panas atau demam.
Batuk pilek pada bayi baru dilahirkan biasanya terjadi antara 2 – 3 hari, Namun apabila batuk pilek terjadi lebih dari 1 minggu, bisa jadi anak anda mengalami infeksi bakteri lanjutan, dan kasus yang sering terjadi pada anak adalah terjadinya penyakit Bronkitis. Dalam kondisi ini anda harus segera memeriksakan ke Dokter agar dilakukan pemeriksaan.



c.       Mengatasi batuk pilek.
Adapun cara mudah atau perawatan awal apabila bayi anda yang baru dilahirkan telah mengalami Batuk Pilek adalah:
§  Tetap memberikan ASI secara langsung dari payudara dan hindari penggunaan botol. Hal ini dikarenakan, gerakan bayi menghisap payudara akan menutup saluran eustachius yang menghubungkan hidung dengan telinga, sehingga dapat memperkecil risiko terjadinya infeksi telinga oleh bakteri yang ada di hidung dan tenggorokan yang menyebabkan batuk dan flu pada bayi.
§  Jangan memberikan obat antibiotik tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Karena dengan melakukan pemeriksaan dengan dokter, maka akan diketahui jenis bakteri yang menginfeksi bayi anda.
§  Apabila gejala Batuk dan Flu disertai demam dengan suhu tubuh lebih dari 38 derajat Celcius, maka segera berikan obat penurun panas, dan jangan mengompresnya dengan air dingin agar tidak terjadi kejang.
§  Saat sebelum minum susu atau sebelum tidur, keluarkan cairan yang ada di hidung bayi dengan penguapan, menepuk-nepuk punggung bayi dengan posisi telungkup di paha, atau disedot menggunakan alat penyedot lendir yang saat ini dijual di pasaran. Hal ini bertujuan agar napas bayi menjadi lebih lega.
Untuk Mencegah Batuk dan Flu dikemudian hari maka perlu dilakukan imunisasi vaksin influenza saat bayi berusia 6 bulan dan diulang setiap satu tahun sekali. Apabila Batuk Pilek pada Bayi menyebabkan kemampuan minum bayi berkurang dan terjadi selama lebih dari satu minggu, segera bawa ke dokter agar segera dilakukan pengobatan dengan cara yang tepat.



G.    Obstipasi
a.       Pengertian
Obstipasi adalah penimbunan feses yang keras akibat adanya penyakit atau adanya obstruksi pada saluran cerna. Bisa juga didefenisikan sebagai tidak adanya pengeluaran feses selama 3 hari atau lebih. Lebih dari 90% bayi baru lahir akan mengeluarkan mekonium dalam 24 jam pertama, sedangkan sisanya akan mengeluarkan mekonium dalam 36 jam pertama kelahiran.


b.      Etiologi
Obstipasi pada anak dapat disebabkan oleh hal-hal berikut.
·         Kebiasaan makan
Obstipasi akan timbul bila feses terlalu kecil untuk membangkitkan keinginan untuk buang air besar. Keadaan ini terjadi akibat dari kelaparan, dehidrasi, dan mengonsumsi mkanan yang kurang mengandung selulosa.
·         Hipotiroidisme.
·         Keadaan-keadaan mental.
Faktor kejiwaan memegang peranan penting terhadap terjadinya obstipasi, terutama depresi berat yang tidak memedulikan keinginannya untuk buang air besar.
·         Penyakit organik.
·         Kelainan kongenital.
·         Penyebab lain.
Penyebab lainnya diet yang salah, tidak mengonsumsi makanan yang mengandung serat selulosa sehingga bisa mendorong terjadinya peristaltik, atau pada anak setelah sakit, ketika anak masih kekurangan cairan.
c.       Tanda dan Gejala
v  Pada neonatus jika tidak mengeluarkan mekonium dalam 36 jam pertama, pada bayi jika tidak mengeluarkan feses selama 3 hari atau lebih.
v  Sakit dan kejang pada perut.
v  Pada pemeriksaan rektal, jari akan merasa jepitan udara dan mekonium yang menyemprot,.
v  Feses besar dan tidak dapat digerakkan dalam rektum.
v  Bising usus yang janggal.
v  Merasa tidak enak badan, anoreksia, dan sakit kepala.
v  Terdapat luka pada anus.
d.      Pembagian
·         Obstipasi akut, yaitu rektum tetap mempertahankan tonusnya dan defekasi timbul secara mudah dengan stimulasi laksatif, supositoria, atau enema.
·         Obstipasi kronik, yaitu rektum tidak kosong dan dindingnya mengalami perengangan berlebihan secara kronik, sehingga tambahan feses yang datang mencapai tempat ini tidak menyebabkan rektum merengang lebih lanjut. Reseptor sensorik tidak memberikan respons pada dinding rektum lebih lanjut, flaksid, dan tidak mampu untuk berkontraksi secara efektif.
e.       Komplikasi
Komplikasi yang bisa terjadi pada penderita obstipasi adalah sebagai berikut.
v  Perdarahan.
v  Ulserasi.
v  Obstruksi parsial.
v  Diare intermiten.
v  Distensi kolon akan menghilang jika ada sensasi regangan rektum yang mengawali proses defekasi.
f.       Penatalaksanaan
Ø  Mencari penyebab obstipasi.
Ø  Menegakkan kembali kebiasaan defekasi yang normal dengan memperhatikan gizi, tambahan cairan, dan kondisi psikis.
Ø  Pengosongan rektum dilakukan jika tidak ada kemajuan setelah di anjurkan untuk menegakkan kembali kebiasaan defekasi. Pengosongan rektum bisa dilakukan dengan disimpaksi digital, enema minyak zaitun, dan laktasif.



H.    Sindrom kematiaan mendadak (Sudden Infant Death Syndrome-Sids)
1.      Definisi
Sindrom kematian mendadak (sudden infant death syndrome-sids) terjadi pada bayi yang sehat, saat ditidurkan tiba-tiba ditemukan meninggal beberapa jam kemudian. SIDS terjadi kurang lebih 4 dari 1000 kelahiran hidup, insiden puncak dari SIDS pada bayi usia 2 minggu dan 1 tahun.
2.      Etiologi
Secara pasti penyebabnya belum di ketahui, namun beberapa ahli telah melakukan penelitian dan mengemukakan ada beberapa penyebab SIDS yaitu sbb.
§  Ibu yang masi remaja.
§  Bayi dengan jarak kehamilan yang dekat.
§  Bayi laki-laki dengan berat badan dibawah normal.
§  Bayi yang mengalami displasia bronkopulmoner.
§  Bayi prematur.
§  Gemelli (bayi kembar)
§  Bayi dengan sibling.
§  Bayi dari ibu yang ketergantungan dengan narkotika.
§  Prevalensi pada bayi dengan posisi tidur telungkup.
§  Bayi dengan virus pernapasan.
§  Bayi dengan infeksi botulinum.
§  Bayi dengan apnea yang berkepanjangan.
§  Bayi dengan gangguan pola napas herediter.
§  Bayi dengan kekurangan surfaktan pada alveoli.
3.      Penatalaksanaan
v  Bantu orang tua mengatur jadwal untuk melakukan konbseling.
v  Berikan dukungan dan dorongan kepada orang tua, ajak orang tua untuk mengungkapkan rasa dukanya.
v  Berikan penjelasan mengenai SIDS, beri kesempatan pada orang tua untuk mengajukan pertanyaan.
v  Beri pengertian pada orang tua bahwa perasaan yang mereka rasakan adalah hal yang wajar.
v  Berin keyakinan pada sibling (jika ada) bahwa mereka tidak bersalah terhadap kematian bayi tersebut, bahkan jika mereka sebenarnya juga mengharapkan kematian bayi tersebut.
v  Jika kemudian ibu melahirkan bayi kembali, beri dukungan orang tua selama beberapa bulan pertama, paling tidak sampai melewti bayi yang meninggal sebelum nya.




















BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Masalah yang sering timbul pada Neonatus,bayi, balita dan anak pra sekolah banyak terjadi ditengah-tengah masyarakat. Beberapa masalah yang sering timbul diantaranya :
·         Diare
·         Diaper rush
·         Hemangioma
·         Seborrhea
·         Bisulan
·         Batuk pilek
·         Obstipasi
·         Meninggal mendadak
Oleh karena itu kita sebagai seorang tenaga kesehatan harus mengetahui cara pencegahan dan pengobatannya apabila sudah terjadi, baik pengobatan secara medis maupun non medis
B.     Saran
Adapun saran yang dapat kami berikan adalah : dengan adanya makalah ini kami berharap sebagai mahasiswi kebidanan kita dapat memahami dan mengaplikasikan pemahaman dan penatalaksanaan Asuhan Pada Neonatus, Bayi Balita Dan Anak Prasekolah Dengan Masalah Diare, Diaper Rash, Hemangioma, Seborhea, Bisulan, Batuk pilek, Obstipasi, dan Meninggal mendadak.

 





DAFTAR PUSTAKA
Sumber dari buku :
Maryunani, Anik. 2010. Ilmu Kesehatan Anak Dalam Kebidanan. Jakarta : Trans Info Media.
Sudarti. 2010. Kelainan dan Penyakit Pada Bayi dan Anak. Yogyakarta : Nuha Medika.
Sumber dari website :
Bayi dengan bisulan. http://eniskure.blogspot.com/ (Diakses pada tanggal 30 Oktober 2013, pukul 17.34)

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon